Page 516 - Prosiding Seminar Nasional: Problematika Pertanahan dan Strategi Penyelesaiannya. Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional bekerja sama dengan Pusat Studi Hukum Agraria
P. 516

508    Prosiding Seminar: Problematika Pertanahan dan Strategi Penyelesaiannya


                                        27
                                                                               28
             sama  di  hadapan  hukum ,  hak  untuk  menyatakan  pendapat,  hak  untuk  memperoleh
                        29
             informasi,  serta  hak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat, dan
             harta benda yang di bawah kekuasaannya, serta berhak atas rasa aman dan perlindungan dari
                                                                                                       30
             ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang merupakan hak asasi .
             Jika dikaitkan dengan pengadaan tanah bagi pembangunan untuk kepentingan umum, hak-
             hak konstitusi tersebut telah diejawantahkan ke dalam  ketentuan-ketentuan di dalam UU
             2/2012 dan peraturan pelaksanaannya, dalam rangka memberikan perlindngan hukum bagi

             masyarakat yang terkena dampak pembangunan.
                  Berkaitan  dengan  hal  itu  pula  Arie  S.  Hutagalung  mengemukakan  di  dalam  Hukum
             Tanah Nasional terdapat asas-asas yang berlaku dalam penguasaan tanah dan perlindungan
                                                            31
             hukum bagi pemegang hak atas tanah yaitu :  a) penguasaan dan penggunaan tanah oleh
             siapapun dan untuk keperluan apapun, harus dilandasi hak pihak penguasa sekalipun, jika
             gangguan  atas  tanah  yang  disediakan  oleh  hukum  tanah  nasional;  b)  penguasaan  dan
             penggunaan tanah tanpa ada landasan haknya (illegal) tidak dibenarkan dan diancam dengan
             sanksi pidana; c) penguasaan dan penggunaan tanah yang berlandaskan hak yang dsediakan

             oleh hukum tanah nasional, dilindungi oleh hukum terhadap gangguan dari pihak manapun,
             baik oleh sesama anggota masyarakat maupun oleh pihak penguasa sekalipun, jika gangguan
             tersebut tidak ada landasan hukumnya; d) dalam keadaan biasa, diperlukan oleh siapapun

             dan untuk keperluan apapun (juga untuk proyek kepentingan umum) perolehan tanah yang
             dihaki seseorang harus melalui musyawarah untuk mencapai kesepakatan baik mengenai
             penyerahan tanahnya kepada pihak yang memerlukn maupun mengenai imbalannya yang
             merupakan  hak  pemegang  ha  atas  tanah  yang  bersangkutan  untuk  menerimanya;  e)

             hubungan hubungan dimaksud di atas, dalam keadaan biasa, untuk memeperoleh tanah yang
             diperlukan tidak dibenarkan adanya paksaan dalam bentuk apapun dan oleh pihak siapapun
             kepada  pemegang  haknya  untuk  menyerahkan  tanah  kepunyaanya  dan  atau  menerima
             imbalan yang tidak disetujuinya.

                  Selanjutya f) dalam keadaan yang memaksa, jiak tanah yang bersangkutan diperlukan
             untuk  penyelenggaraan  kepentingan  umum,  dan  tidak  mungkin  digunakan  tanah  lain,
             sedang musyawarah yang diadakan tidak berhasil memperoleh kesepakatan, dapat dilakukan

             pengambilan  Secara  paksa,  dalam  arti  tidak  memerlukan  persetujuan  yang  berhak,  yaitu
             dengan  cara  pencabutan  hak  atas  tanah  sesuai  UU  20/1961;  g)  dalam  perolehan  atau
             pengambilan tanah, baik atas dasar kesepakatan bersama maupun melalui pencabutan hak,
             pemegang  haknya  berhak  memperoleh  imbalan  atau  ganti  kerugian    yang  bukan  hanya

             meliputi  tanahnya,  bangunan  dan  tanaman  pemegang  hak,  melainkan  juga  kerugian-


                27  Pasal 28 C ayat (2) UUD 1945.
                28  Pasal 28 E ayat (3) UUD 1945.
                29  Pasal 28 F UUD 1945.
                30  Pasal 28 G ayat (1) UUD 1945.
                31  Arie S. Hutagalung, Seputar Masalah Hukum Tanah, LPHI, Jakarta, 2005, hlm. 377.
   511   512   513   514   515   516   517   518   519   520   521