Page 465 - Asas-asas Keagrariaan: Merunut Kembali Riwayat Kelembagaan Agraria, Dasar Keilmuan Agraria dan Asas Hubungan Keagrariaan di Indonesia
P. 465

sampai ayat (3) UUPA. Hak bangsa Indonesia atas tanah ini mempunyai
            sifat komunal, yang artinya semua tanah yang ada dalam wilayah negara
            Indonesia merupakan tanah bersama rakyat indonesia yang telah bersatu
            dengan bangsa Indonesia (Pasal 1 ayat (1) UUPA). Selain itu mempunyai
            sifat religius artinya seluruh tanah yang ada dalam wilayah Negara
            Republik Indonesia merupakan karunia Tuhan Yang Maha Esa (Pasal 1
            ayat (2) UUPA). Hubungan bangsa Indonesia dengan tanah bersifat abadi,
            yang artinya selama rakyat Indonesia bersatu dengan bangsa Indonesia
            hubungannya akan terus berlangsung tiada terputus untuk selamanya. Sifat
            abadi pulalah yang menjadikan dalam keadaan apapun dan bagaimanapun
            tidak ada sesuatu kekuasaan yang dapat memutuskan dan meniadakan
            eksistensi hubungan tersebut(pasal 1 ayat(3) UUPA).

                 Subyek (Pemegang Hak) pada Hak Bangsa adalah seluruh rakyat
            Indonesia sepanjang masa yang bersatu sebagai Bangsa Indonesia, yaitu
                                            12
            generasi-generasi yang akan datang.  Untuk tanah yang dihaki ialah semua
            tanah yang ada dalam Wilayah Negara Republik Indonesia. Tidak ada tanah
            yang merupakan res nullius.
                                      13
                 Menurut Boedi Harsono, penyataan tanah yang dikuasai oleh Bangsa
            Indonesia sebagai tanah bersama tersebut menunjukkan adanya hubungan
            hukum di bidang Hukum Perdata. Hak Bangsa Indonesia dalam Hukum
            Tanah nasional adalah hak kepunyaan, yang memungkinkan penguasaan
            bagian-bagian tanah bersama dengan Hak Milik oleh warga negara secara
            individual. 14
                 Aspek perdata berkaitan dengan unsur kepunyaan, yang apabila
            diletakkan pada hak bangsa berarti memberikan kewenangan untuk
            mempunyai (entitlement to possess) secara bersama-sama atas sumber daya
            agraria di dalam wilayah Indonesia. Di samping memiliki aspek perdata, hak
            bangsa juga memiliki aspek publik yang memiliki unsur tugas kewenangan
            (entitlement to control). Hal ini merujuk pada kewenangan untuk mengatur
            dan memimpin penguasaan dan penggunaan sumber daya agraria yang
            dipunyai bersama oleh seluruh bangsa.


                 12 Boedi Harsono, 2008, Hukum Agraria Indonesia, Djambatan, Jakarta, hlm 267.
                 13 Ibid.
                 14 Boedi Harsono (II), Menuju Penyempurnaan Hukum Tanah Nasional dalam Hubungannya
            dengan TAP MPR RI IX/MPR/2001, Universitas Trisakti, Jakarta, Maret 2002, hlm 43, seperti yang
            dikutip dalam Urip Santoso,  2006, Hukum Agraria dan Hak-Hak Atas Tanah, Kencana, Jakarta,
            hlm 77.


            434      Hubungan Keagrariaan
   460   461   462   463   464   465   466   467   468   469   470