Page 467 - Asas-asas Keagrariaan: Merunut Kembali Riwayat Kelembagaan Agraria, Dasar Keilmuan Agraria dan Asas Hubungan Keagrariaan di Indonesia
P. 467

(3)  Wewenang yang bersumber pada hak menguasai negara tersebut
                 pada ayat 2 pasal ini, digunakan untuk mencapai sebesar-besar
                 kemakmuran rakyat, dalam arti kebangsaan, kesejahteraan, dan
                 kemerdekaan dalam masyarakat dan negara hukum Indonesia yang
                 merdeka, berdaulat, adil, dan makmur.
            (4)  Hak menguasai dari negara tersebut di atas pelaksanaannya dapat
                 dikuasakan kepada daerah-daerah swatantra dan masyarakat-
                 masyarakat hukum adat, sekedar diperlukan dan tidak bertentangan
                 dengan kepentingan nasional, menurut ketentuan-ketentuan
                 Peraturan Pemerintah.

                 Negara sebagai organisasi kekuasan tertinggi seluruh rakyat
            melaksanakan tugas untuk mempimpin dan mengatur kewenangan bangsa
            Indonesia (kewenangan publik). Subjek Hak Menguasai Negara adalah
            Negara Republik Indonesia, sebagai organisasi kekuasaan seluruh rakyat
                      16
            Indonesia.  Tanah yang dihaki dalam Hak Menguasai Negara meliputi
            semua tanah dalam wilayah Republik Indonesia, baik tanah-tanah yang
            tidak atau belum maupun yang sudah dihaki dengan hak-hak perorangan. 17
                 Negara sebagai penerima kuasa harus mempertanggungjawabkan
            kepada masyarakat Indonesia sebagai pemberi kuasa.  Ada dua hal yang
                                                             18
            dapat membatasi kewenangan negara atau Hak Menguasai Negara ini.
            Pertama, pembatasan oleh konstitusi atau Undang-Undang Dasar 1945.
            Pembatasan ini berupa hal-hal yang diatur oleh negara tidak boleh berakibat
            pelanggaran hak asasi manusia yang dijamin oleh Undang-Undang Dasar
            1945.
                 Kedua, pembatasan substantif, yaitu semua peraturan pertanahan
            harus ditujukan untuk mewujudkan kemakmuran rakyat sebesar-besarnya
            sebagaimana diisyaratkan dalam Pasal 2 ayat (3) UUPA. Kewenangan
            ini tidak dapat didelegasikan kepada pihak swasta karena menyangkut
            kesejahteraan umum yang sarat dengan misi pelayanan. Pendelegasian






                 16 Boedi Harsono, Op.Cit, hlm 271.
                 17 Ibid.
                 18 Maria S.W., Sumardjono, 1998, Kewenangan Negara untuk Mengatur dalam Konsep
            Penguasaan Tanah oleh Negara, dalam Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar pada Fakultas Hukum
            UGM, Yogyakarta.


            436      Hubungan Keagrariaan
   462   463   464   465   466   467   468   469   470   471   472