Page 466 - Asas-asas Keagrariaan: Merunut Kembali Riwayat Kelembagaan Agraria, Dasar Keilmuan Agraria dan Asas Hubungan Keagrariaan di Indonesia
P. 466

b.    Hak Menguasai Negara
                   Di zaman kolonial, semua tanah tak bertuan atau tanah kosong
             dikuasai oleh negara, sehingga negara bertindak sebagai dominum (pemilik
             tanah). Hal ini dimungkinkan supaya negara dapat menjual hak penguasaan
             tanah kepada swasta. Ketentuan ini dituangkan di dalam Pasal 1 Agrarische
             Besluid tahun 1870 yang mengatur mengenai asas domein verklaring,
             dengan ketentuan bahwa semua tanah yang tidak dapat dibuktikan dengan
             hak eigendom-nya adalah domein negara. 15
                   Setelah Indonesia merdeka, asas domein verklaring dihapuskan,
             negara memiliki hak menguasai bukan memiliki. Hal ini dapat terlihat
             di dalam pasal 33 ayat (3) Undang-undang Dasar 1945 yang sangat jelas
             membuktikan adanya penguasaan oleh negara sepenuhnya terhadap adanya
             sumberdaya alam yang ada di bumi dan seluruh kekayaan alam yang ada
             di dalamnya termasuk ruang angkasa diatasnya. Menguasai dapat diartikan
             sebagai tujuan untuk menentukan dan memanfaatkan serta mengambil
             manfaat dalam bentuk pengelolaan oleh penguasa.
                   Hak menguasai negara diatur di dalam Pasal 2 ayat 2 UUPA, yang
             memberi wewenang kepada Negara, yang bunyinya sebagai berikut:

             (1)  Atas dasar ketentuan dalam Pasal 33 ayat 3 Undang-Undang Dasar
                   dan hal-hal sebagai yang dimaksud dalam Pasal 1, bumi, air, dan
                   ruang angkasa termasuk kekayaan alam yang terkandung di dalamnya
                   itu, pada tingkatan tertinggi dikuasai oleh Negara, sebagai organisasi
                   seluruh rakyat.
             (2)  Hak menguasai dari Negara termaksud dalam ayat 1 pasal ini memberi
                   wewenang untuk:
                   a.   Mengatur dan menyelenggarakan peruntukan, penggunaan,
                        persediaan, dan pemeliharaan bumi, air, dan ruang angkasa
                        tersebut.
                   b.   Menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara
                        orang-orang dengan bumi, air, dan ruang angkasa.
                   c.   Menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara
                        orang-orang dan perbuatan-perbuatan hukum yang mengenai
                        bumi, air, dan ruang angkasa.



                   15 Muchsin, Imam Koeswahyono, dan Soimin, 2010, Hukum Agraria Indonesia dalam
             Perspektif Sejarah, Refika Aditama, Bandung, hlm. 15


                Pengakuan dan Perlindungan Hak Atas Tanah Masyarakat Hukum Adat...  435
   461   462   463   464   465   466   467   468   469   470   471