Page 509 - Asas-asas Keagrariaan: Merunut Kembali Riwayat Kelembagaan Agraria, Dasar Keilmuan Agraria dan Asas Hubungan Keagrariaan di Indonesia
P. 509

masyarakat adat di kawasan hutan dan mendengarkan kesaksian
                       sekurang-kurangnya 12 korban dari anggota masyarakat adat.
                            Hasil dari Inkuiri National akan disusun dalam format
                       laporan lengkap yang menyajikan kesaksian korban dan
                       pemeriksaan dari saksi-saksi. Rekomendasi dari hasil Dengar
                       Kesaksian akan dimasukkan di dalam laporan dan digunakan
                       untuk lobby dan upaya perubahan kebijakan. Sampai dengan
                       saat ini proses National Inquiry masih berjalan.
                            Di luar national inquiry, masing-masing organisasi
                       masyarakat sipil tersebut memberikan perhatian yang mendalam
                       terhadap pengakuan dan perlindungan hak-hak atas tanah dan
                       kekayaan alam mayarakat hukum adat. Melalui penelitian,
                       pendampingan, dan advokasi yang sudah mereka lakukan
                       melalui perhatian kelembagaannya masing-masing, mereka
                       mendorong penguatan hak mayarakat adat baik melalui
                       pemetaan, hukum, dan analisa sosial-ekonomi-politik, serta
                       mempertemukan berbagai elemen kelembagaan.
                            Jaringan kerja Pemetaan Partisipatif (JKPP) telah
                       melakukan pemetaan terhadap wilayah hutan adat. Ini
                       dilakukan mengingat ketiadaan secara aktif pemerintah
                       (Kementerian Kehutanan) yang telah secara otoriter (istilah
                       resmi MK) menunjuk kawasan hutan dan memasukkan hutan
                       adat ke dalam hutan negara. Jika pasal mengenai hal itu sudah
                       dibatalkan oleh MK, maka logikanya adalah Kementerian
                       Kehutanan lah yang harus secara aktif mengkoreksi kesalahannya
                       dengan menetapkan dan mengeluarkan kawasan hutan adat
                       yang telah diapropriasi tersebut. Namun, dalam kenyataannya
                       tidaklah demikian.
                            JKPP sampai dengan Desember 2013 telah menguji
                       coba memetakan secara partisipatif wilayah adat yang diambil
                       secara sepihak oleh kementerian Kehutanan. Dari data yang
                       sudah dikumpulkannya, 5.263.058,28 hektar luas wilayah hasil
                       pemetaan partisipatif terdapat wilayah adat sekitar  4.973.711,79
                       hektar.  Jika data peta wilayah adat tersebut ditumpang susun
                       dengan data peta Kawasan Hutan, maka ada sekitar 81% atau
                       sekitar 4.050.231,18 hektar kawasan hutan berada di wilayah




            478      Hubungan Keagrariaan
   504   505   506   507   508   509   510   511   512   513   514