Page 584 - Asas-asas Keagrariaan: Merunut Kembali Riwayat Kelembagaan Agraria, Dasar Keilmuan Agraria dan Asas Hubungan Keagrariaan di Indonesia
P. 584

program yang spesifik untuk mengupayakan kecukupan areal pertanian
             bagi kelangsungan hidup mereka. Pasal 74 Perda tersebut hanya memuat
             ketentuan normatif yang sifatnya umum, bahwa zonasi untuk kawasan
             pertanian lahan kering, antara lain adalah: 1) dengan melakukan pola
             agroforestri melalui teknik tumpangsari antara tanaman pangan dan
             tanaman hutan yang berfungsi lindung, di samping tanaman pangan
             untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat; 2) menerapkan sistem usaha
             tani terpadu berupa kombinasi ternak - tanaman pangan, hortikultura
             (sayuran, tanaman hias) dan tanaman tahunan yang disertai masukan
             hara berupa kombinasi pupuk anorganik dan organik; dan 3) penggunaan
             lahan untuk tanaman yang menunjang pengembangan bidang peternakan
             dalam upaya menghasilkan pakan ternak seperti jagung, kacang tanah,
             kacang kedele, kacang hijau, ubi kayu, dan ubi jalar. Walau demikian,
             implementasi dari program tersebut belum signifikan meredusir kemiskinan
             di kalangan masyarakat agraris. Rupa-rupanya Pemko Kota Tarakan dalam
             pembangunan ke depan lebih berorientasi pada pembangunan yang
             mengedepankan kemajuan daerah sebagai kota jasa, perdagangan, dan
             kota industri.


             3.    Permasalahan Penguasaan Tanah

                   Kondisi penguasaan tanah di Kota Tarakan bisa dibilang sudah
             kurang terkendali, adanya okupasi-okupasi ilegal pada kawasan lindung
             menunjukkan hal itu. RTRW yang dikeluarkan Pemko rupa-rupanya
             telah terlambat dalam mengantisipasinya. Kawasan hutan lindung, hutan
             kota, ruang terbuka hijau (RTH), dan kawasan sempadan pada beberapa
             bagian telah banyak yang dikuasai warga masyarakat. Untuk itu, RTRW
             terakhir yang berlaku tahun 2012-2032,  berupaya untuk mengendalikan
             dan menertibkan penguasaan-penguasaan yang mengancam kelestarian
             lingkungan tersebut.
                   Terdapat juga empat area Wilayah Kerja Pertamina (WKP) yang sangat
             luas di tengah-tengah pulau, yaitu WKP Pamusian, WKP Sesanip, WKP
             Juata, dan WKP Mangatal. Tidak jauh berbeda dengan kawasan lindung
             yang telah diokupasi, pendudukan secara ’ilegal’ (versi Pertamina) juga
             telah terjadi di area-area itu. Pihak Pertamina yang dalam jangka dekat ini
             akan mengambil kembali tanah di area kerja eksplorasinya telah mendapat
             tentangan dari warga masyarakat yang menguasainya. Pertentangan tersebut



                    Permasalahan Surat Ijin Memakai Tanah Negara Sebagai ‘Alas Hak‘...  553
   579   580   581   582   583   584   585   586   587   588   589