Page 587 - Asas-asas Keagrariaan: Merunut Kembali Riwayat Kelembagaan Agraria, Dasar Keilmuan Agraria dan Asas Hubungan Keagrariaan di Indonesia
P. 587

Acapkali GS dibuat asal-asalan, petugas waktu itu tidak mendatangi
            langsung lokasi bidang tanah, dan pengukurannya diserahkan kepada pihak
            ketiga yang tidak berwenang dan kompeten dalam pengukuran kadastral
            dan penyelidikan riwayat tanah. Suatu ketika pernah dijumpai orang yang
            berprofesi tukang ojek di pelabuhan penyeberangan, telah mengukur
            bidang tanah dari ’job’ yang diterima dari petugas Kantah Kabupaten
            Bulungan.’Dilihat dari satelit’ merupakan istilah yang digunakan atas
            ketidakseriusan petugas ukur Kantah Kabupaten Bulungan yang tidak
            mendatangi dan mengukur bidang tanah di Pulau Tarakan dan daerah-
            daerah lain yang jauh dari kantor pelayanan. Atas hal-hal yang menyimpang
            dalam pengadaan GS itu, maka Kantah Kota Tarakan tidak lagi menerima
            GS sebagai ’alas hak’ dalam pendaftaran tanah.

                 Memperhatikan bukti-bukti penguasaan tanah di Kota Tarakan yang
            tidak berkepastian dan menggejalanya penguasaan tanah yang tidak tertib,
            maka Pemko Tarakan telah mengambil kebijakan dengan mengeluarkan
            SIM-TN. Saat ini, SIM-TN merupakan ’alas hak’ yang paling banyak
            diajukan oleh masyarakat dalam pendaftaran tanah pertama kali untuk
            mendapatkan sertipikat hak atas tanah di Kantah. Di samping SIM-TN,
            masih terdapat ’alas hak’ berupa SKT yang dikeluarkan Desa dan dikuatkan
            Camat. SKT yang diajukan sebagai ’alas hak’ tidak terlalu banyak. Kantah
            Kota Tarakan sangat berhati-hati dalam menerima SKT ini.
                 Ada ketentuan dalam penggunaan ’alas hak’ berupa SKT, yaitu
            hanya pada tanah-tanah yang telah dibuka sebelum tahun 1990-an, atau
            telah terjadi penguasaan selama 20 tahun. Kehati-hatian diterapkan betul
            dengan mencermati setiap SKT, jika meragukan atau dinilai ada keganjilan
            pada SKT, maka berkas permohonan dikembalikan ke pemohon atau
            dicek langsung oleh Kantah ke pihak kelurahan yang mengeluarkan surat-
            surat tanah tersebut. Jika sangat meragukan dan tidak logis maka kepada
            pemohon disarankan untuk membuat SIM-TN yang setelah 2 tahun dapat
            digunakan sebagai ’alas hak’. Untuk bidang tanah yang sudah digarap dan
            menghasilkan, maka SIM-TN dapat langsung digunakan sebagai ’alas
            hak’. Dalam arti demikian, SKT yang dibuat pada tahun-tahun 1990-an
            dan setelahnya tidak diterima lagi sebagai ’alas hak’, dan kepada pemohon
            diminta untuk membuat SIM-TN sebagai ’alas hak’.








            556      Hubungan Keagrariaan
   582   583   584   585   586   587   588   589   590   591   592