Page 590 - Asas-asas Keagrariaan: Merunut Kembali Riwayat Kelembagaan Agraria, Dasar Keilmuan Agraria dan Asas Hubungan Keagrariaan di Indonesia
P. 590

Berdasarkan dokumen warkah pendaftaran tanah di Kantah Kota
             Tarakan terdapat 2 (dua) prosedur yang ditempuh dalam rangka sertipikasi,
             yaitu: 1) status tanahnya dianggap sebagai milik adat; dan 2) berasal dari
             tanah Negara.


             1)    Status tanah dianggap sebagai tanah milik adat
                   Proses sertipikasi dilakukan dengan mekanisme Pengakuan Hak. Hal
             ini menandakan bahwa status tanah tersebut diperlakukan sebagai tanah
             milik adat. Contoh kasus seperti ini dapat dilihat dari Surat Keputusan
             Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Kalimantan Timur tertanggal 27
             Januari 1982 nomor SK 249/THM-Bul-Prona/1982 tentang Penegasan
             Sebagai Tanah Milik Adat yang diberikan kepada Mukadampit, dkk. (103
             orang). Penegasan sebagai hak milik dilaksanakan dengan mengacu pada
             Pasal 7 Peraturan Menteri Pertanian dan Agraria Nomor 2 Tahun 1962
             yang berbunyi: “Mengenai hak-hak yang tidak ada atau tidak ada lagi
             tanda buktinya, maka atas permohonan yang berkepentingan diberikan
             pengakuan hak atas dasar hasil pemeriksaan Panitia Pemeriksaan Tanah
             A”. Pengakuan hak tersebut diberikan sesudah hasil pemeriksaan panitia
             diumumkan selama 2 bulan berturut-turut di Kantor Kepala Desa, dan
             selama pengumuman tersebut tidak ada yang menyatakan keberatan
             baik mengenai macam haknya, siapa yang empunya, maupun letak, luas,
             dan batas-batas tanahnya. Pemberian penegasan pengakuan hak tersebut
             dikeluarkan oleh Direktorat Agraria Provinsi (sekarang Kantor Wilayah
             Badan Pertanahan Nasional Provinsi).
                   Dengan adanya status sebagai tanah milik adat, patut diduga
             bahwa terdapat tanah di Kota Tarakan yang sudah dipungut pajaknya
             sejak sebelum berlakunya UUPA (24 September 1960). Hal ini merujuk
             pada Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri 26/DDA/1970 tentang
             Penegasan Konversi dan Pendaftaran Bekas Hak-Hak Barat Atas Tanah
             yang menyatakan bahwa: “Tanda bukti hak bagi tanah-tanah yang sebelum
             tanggal 24 September 1960 sudah dipungut pajak hasil bumi adalah Surat
             Pajak atau Verponding Indonesia yang dikeluarkan sebelum 24 September
             1960”. Dengan demikian, tidak semua tanah di Kota Tarakan merupakan
             tanah Negara, yang berarti pula proses pendaftaran tanah di Kota Tarakan
             dapat ditempuh melalui mekanisme pengakuan hak sepanjang memenuhi
             syarat sebagaimana diatur dalam PP 24/1997 jo. PMNA/KBPN 3/1997.




                    Permasalahan Surat Ijin Memakai Tanah Negara Sebagai ‘Alas Hak‘...  559
   585   586   587   588   589   590   591   592   593   594   595