Page 588 - Asas-asas Keagrariaan: Merunut Kembali Riwayat Kelembagaan Agraria, Dasar Keilmuan Agraria dan Asas Hubungan Keagrariaan di Indonesia
P. 588

2.    Prosedur Pendaftaran Tanah: Masa Lalu dan Kini
                   Sertipikat tanah merupakan suatu tanda bukti kepemilikan tanah yang
             dimiliki oleh seseorang, dan mempunyai jaminan kepastian hukum. Suatu
             pengakuan dan penegasan dari Negara terhadap penguasaan tanah atau
             hak milik atas satuan rumah susun, baik secara perorangan, badan hukum
             maupun instansi pemerintah yang tertulis dalam Buku Tanah. Jaminan
             kepastian hukum diartikan bahwa sebidang tanah, baik lokasi, batas-batas,
             luas, pemegang hak, dan status tanahnya tercantum dalam sertipikat.
                   Dalam Pasal 23 PP 24/1997 dinyatakan bahwa: “Untuk keperluan
             pendaftaran hak atas tanah baru dibuktikan dengan penetapan pemberian
             hak dari pejabat yang berwenang memberikan hak yang bersangkutan
             apabila pemberian hak tersebut berasal dari tanah Negara atau Hak
             Pengelolaan.” Selanjutnya berdasarkan Pasal 9 ayat (2) angka 2a PMNA/
             KBPN 9/1999 disebutkan bahwa: “Dalam setiap permohonan hak,
             pemohon harus menyampaikan keterangan mengenai tanahnya yang
             meliputi data yuridis dan data fisik:

             a.    dasar penguasaan atau alas hak, dapat berupa sertipikat, girik, surat
                   kavling, surat-surat bukti pelepasan hak, dan pelunasan tanah dan
                   rumah atau tanah yang dibeli dari pemerintah, putusan pengadilan,
                   akta PPAT, akta pelepasan, dan surat-surat bukti perolehan tanah
                   lainnya;
             b.    letak, batas-batas, dan luas;
             c.    jenis penggunaan tanah (pertanian atau non pertanian);
             d.    rencana penggunaan tanah;
             e.    status tanahnya (Tanah Hak atau Tanah Negara).”


                   Permohonan hak tersebut diajukan kepada Menteri melalui Kepala
             Kantah yang daerah kerjanya meliputi letak tanah yang bersangkutan.
             Setelah Kepala Kantah menerima permohonan tersebut, selanjutnya
             memerintahkan kepada Panitia Pemeriksa Tanah A untuk memeriksa
             permohonan hak di lapangan, dan hasilnya dituangkan dalam Risalah
             Pemeriksaan Tanah. Setelah mempertimbangkan pendapat dari Kepala
             Seksi Hak Tanah dan Pendaftaran Tanah atau pejabat yang ditunjuk atau
             Panitia Pemeriksaan Tanah A, maka Kepala Kantah menerbitkan Surat
             Keputusan Pemberian Hak Milik Atas Tanah yang dimohon. Apabila
             kewenangan pemberian hak menjadi kewenangan Kantor Wilayah BPN,



                    Permasalahan Surat Ijin Memakai Tanah Negara Sebagai ‘Alas Hak‘...  557
   583   584   585   586   587   588   589   590   591   592   593