Page 595 - Asas-asas Keagrariaan: Merunut Kembali Riwayat Kelembagaan Agraria, Dasar Keilmuan Agraria dan Asas Hubungan Keagrariaan di Indonesia
P. 595

lingkungan. Selama ini Kota Tarakan yang dikenal dan berpredikat sebagai
            ’kota transit’ dan terus berkembang pesat, telah menjadikan kondisi
            penggunaan dan penguasaan tanah yang mengarah pada ketidaktertiban.
            Menurut Perda 19/2001 yang kemudian direvisi dengan Perda 10/2004,
            penerbitan SIM-TN dimaksudkan untuk mengendalikan dan menertibkan
            penggunaan dan penguasaan tanah oleh warga masyarakat yang dinilai telah
            mengancam kelestarian lingkungan, di masa mendatang sangat potensial
            menghambat pembangunan, dan rawan konflik/sengketa pertanahan.
            Pembangunan saat ini yang sedang gencar-gencarnya dilakukan Kota
            Tarakan membutuhkan ruang/tanah. Aturan-aturan pun disusun dalam
            menata kawasan, seperti aturan kawasan lindung, kawasan sempadan
            sungai/pantai, kawasan militer, dan lain-lain. Terhadap penguasaan tanah
            oleh warga masyarakat, SIM-TN diharapkan akan bisa menanggulangi
            penggunaan tanah yang menyimpang dari aturan tata ruang yang telah
            dikeluarkan.
                 Pertimbangan lain daripada kebijakan SIM-TN adalah untuk
            menjamin kepastian hukum di bidang penguasaan fisik tanah bagi yang
            belum memiliki sertipikat dan tidak tersedia alat pembuktian yang lengkap
            berupa bukti tertulis, maka pembuktian kepemilikan dilakukan berdasarkan
            bukti penguasaan fisik oleh pemegang hak dan/atau pendahulunya. Sesuai
            Pasal 2 Perda 19/2001 yang menyatakan bahwa setiap orang atau badan
            hukum yang akan atau telah menduduki, menggunakan/memakai tanah
            Negara untuk keperluan pertanian atau non pertanian wajib memiliki Surat
            Ijin yang dikeluarkan oleh Kepala Daerah atau yang ditunjuk untuk itu.
                 Untuk memperoleh SIM-TN, langkah pertama permohonan
            SIM-TN diajukan oleh warga masyarakat kepada Walikota Tarakan u.p.
            Camat setempat. Permohonan tersebut dilakukan secara tertulis dengan
            mengisi formulir yang telah ditentukan, perihal: a) identitas pemohon,
            yang meliputi: nama, umur, nomor KTP, pekerjaan/jabatan, alamat, dan
            akte pendirian (jika yang mengajukan adalah Badan Hukum); dan b)
            tanah yang dimohon, meliputi: letak, luas perkiraan, nama-nama pihak
            yang berbatasan, status tanah, jenis dan keadaan tanah, dan rencana
            penggunaan. Pada lembar permohonan ini dilampiri dengan sketsa lokasi
            dan lembar pernyataan kesediaan mengembalikan SIM-TN bilamana
            Pemerintah sewaktu-waktu menentukan rencana lain terhadap lokasi/tanah,
            sebagaimana diatur Pasal 4 ayat (3) Perda SIM-TN.




            564      Hubungan Keagrariaan
   590   591   592   593   594   595   596   597   598   599   600