Page 665 - Asas-asas Keagrariaan: Merunut Kembali Riwayat Kelembagaan Agraria, Dasar Keilmuan Agraria dan Asas Hubungan Keagrariaan di Indonesia
P. 665

2.   kajian keagrariaan era orde Baru
                 Kondisi yang lebih memprihatinkan terjadi pada era orde baru. Pada
            era rejim otoriter orde baru ini dapat dikatakan bahwa kajian dan studi
            keagrarian absen dari blantika ilmiah dan akademik nasional, sekalipun
            di perguruan–perguruan tinggi ternama. Hal ini sebagaimana dinyatakan
            Wiradi dan White  (1984): “one result of this hiatus is the serious lack of local
            and comparative research materials both on land tenure problems and on the
            theory and practice of  land reform and agrarian reform. Furthermore, formal
            training in the theory and practice of landreform and agrarian reform is now
            virtually absent from curricula of most departments concerned with agricultural
            and rural development problems in Indonesian universities” .
                                                                7
                 Statemen di atas menunjukkan bahwa selama lebih dari tiga dekade,
            riset, kajian dan pembelajaran tentang keagrariaan menjadi hal yang sulit
            ditemukan. Kondisi ini tidak terlepas dari konstelasi dan kondisi politik
            nasional yang mengedepankan pertumbuhan sebagai strategi pembangunan.
                 Sebagai antitesis perjuangan populisme Soekarno, Soeharto
            menetapkan ideologi baru bernama “pembangunanisme”.  Atas nama itu,
            Orde Baru mengeluarkan instrumen hukum, yakni UU tentang Ketentuan
            Pokok Kehutanan UU No.5/1967, UU tentang Pokok Pertambangan
            (UU No. 11/1967) dan UU Penanaman Modal Asing (UU No.2/1967).
            Melalui seperangkat perundangan tersebut Orde Baru memberi legitimasi
            secara bebas dimulainya akumulasi modal berdasarkan sumber daya Agraria
            (kehutanan, pertambangan, tanah, dll). Dengan jalan ini pemerintah telah
            menyambut kepada modal asing untuk ikut serta dan berafiliasi dalam
            eksploitasi sumber daya agraria (Setiawan: 1997; 203).
                 Selain itu, Orde baru juga mulai mempreteli dan mengamputasi
            lembaga maupun pranata penyokong bagi penerapan Land Reform nasional
            dari mulai panitian land reform, pengadilan land reform, panitia pengukuran
            desa lengkap, dll yakni dengan cara  memperlakukan dan memasukkan
            kebijakan redristribusi tanah (land reform) sebagai suatu masalah rutin
            dalam kendali birokrasi (baca: birokratisasi)—melalui keputusan  Presiden
            no.55/1980 (Wiradi,  2009: 88).
                 Seturut dengan program Revolusi Hijau yang dijalankan pemerintah
            (tahun 1974–1983)—yakni sebuah program untuk memodernisasi alat–alat/


                 7 Sebagaimana tertulis pada buku ‘Metodologi Studi Agraria: Karya Terpilih Gunawan Wiradi’
            yang disunting oleh Moh. Shohibuddin, Sains, Bogor, 2009.


            634      Ilmu Agraria
   660   661   662   663   664   665   666   667   668   669   670