Page 667 - Asas-asas Keagrariaan: Merunut Kembali Riwayat Kelembagaan Agraria, Dasar Keilmuan Agraria dan Asas Hubungan Keagrariaan di Indonesia
P. 667

penguasaan dan pemanfaatan sumber daya agraria dan hubungan sosial
            agraria bagi sebesar–besarnya kemakmuran dan kesejahteraan rakyat
            akhirnya harus menabarak dinding keras sejarahnya.  Keinginan untuk
            mencipatakan tata “sosialisme Indonesia” seperti digelorakan oleh Soekarno
            justru tersuruk dalam lobang perangkap kapitalisme–idustrial yang
            melanda bangsa Indonesia. Dampak dari kapitalisme sumber daya agraria
            ini tidak hanya berimplikasi pada tata hukum–kelembagaan maupun
            politik pengelolaan sumber daya agraria secara umum, melainkan juga ikut
            mempersempit, mengerdilkan, dan memadulkan kajian keilmuan agraria
            yang berlangsung di bumi Indonesia.


            C.   Perkembangan Pendidikan tinggi Agraria

                 Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional (STPN) yang saat ini merupakan
            satu–satunya pendidikan tinggi kedinasan pertanahan di bawah Badan
            Pertanahan Nasional Republik Indonesia (BPNRI) ini adalah buah
            perkembangan dari Akademi Agraria (AA) yang lahir pada tahun 1963.
            Kelahiran Akademi Agraria pada tahun 1963 tersebut tidak dapat
            dipisahkan dengan lahirnya Undang–Undang Nomor 5 Tahun 1960
            tentang Peraturan Dasar Pokok–Pokok Agraria yang lebih dikenal dengan
            Undang–Undang Pokok Agraria (UUPA).
                 Sejarah  perkembangan  STPN  layak  dikedepankan  dalam
            pengembangan pendidikan keagrariaan dan kelembagaan agraria di
            Indonesia– secara khusus di Yogyakarta– mengingat pada lembaga inilah
            penyelenggaraan pendidikan secara terpadu yang meliputi aspek pendidikan
            dan pengajaran, penelitian, serta pemberdayaan masyarakat di bidang
            agraria/pertanahan selama lebih dari lima dekade.
                 Misi utama yang mengiringi kelahiran UUPA dan kesadaran tentang
            perlunya ketersediaan sumberdaya manusia yang ahli di bidang keagrariaan
            mendorong kelahiran lembaga pendidikan tinggi di bidang keagrariaan.
            Secara ringkas, perkembangan pendidikan tinggi keagrariaan di Indonesia
            diawali dengan berdirinya Akademi Agraria di Yogyakarta dan Akademi
            Agraria di Semarang, yang keduanya kemudian dilebur menjadi Akademi
            Agraria Departemen Dalam Negeri (AADDN), kemudian berubah lagi
            menjadi Akademi Pertanahan Nasional (APN) dan terakhir menjadi
            Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional (STPN) sampai saat ini.





            636      Ilmu Agraria
   662   663   664   665   666   667   668   669   670   671   672