Page 671 - Asas-asas Keagrariaan: Merunut Kembali Riwayat Kelembagaan Agraria, Dasar Keilmuan Agraria dan Asas Hubungan Keagrariaan di Indonesia
P. 671

kebutuhan SDM di bidang pertanahan tidak cukup dengan kualifikasi
            Asisten Ahli Pertanahan, tetapi mensyaratkan tenaga dengan kualifikasi
            Ahli Pertanahan. Dengan pertimbangan inilah maka Akademi Pertanahan
            Nasional diintegrasikan dan ditingkatkan menjadi Sekolah Tinggi
            Pertanahan Nasional (STPN) melalui Keputusan Presiden Nomor 25 Tahun
            1993 tentang Pendirian STPN pada tanggal 27 Pebruari 1993.



            5.   sekolah tinggi Pertanahan nasional (stPn)
                 Kelahiran STPN ini mengiringi munculnya kesadaran baru tentang
            pentingnya sumberdaya manusia yang memiliki kualifikasi ahli pertanahan,
            mengingat persoalan pertanahan semakin kompleks dan intensitasnya
            semakin tinggi seiring dengan semakin tingginya laju pembangunan di satu
            sisi dan semakin langkanya sumberdaya tanah di sisi yang lain. Kesadaran
            baru tersebut tercermin juga pada sasaran pembangunan nasional bidang
            pertanahan yang berkehendak mewujudkan Catur Tertib Pertanahan, yang
            meliputi: (a) tertib Hukum Pertanahan; (b) tertib Administrasi Pertanahan;
            (c) tertib Penguasaan dan Penggunaan Tanah; dan (d) tertib Pemeliharaan
            Tanah dan Lingkungan Hidup. Untuk mewujudkan Catur Tertib
            Pertanahan tersebut ditetapkan pula kebijaksanaan prioritas pembangunan
            pertanahan yang meliputi: (a) pemanfaatan tanah untuk sebesar–besar
            kesejahteraan rakyat; (b) pengembangan tata ruang dan tata guna tanah
            nasional; dan (c) penataan kembali penggunaan, penguasaan dan pemilikan
            tanah, termasuk peralihan haknya.
                 Berdasarkan latar belakang pendirian STPN tersebut, tampak bahwa
            kesadaran tentang prinsip ”tanah untuk kesejahteraan rakyat” mendapatkan
            momentum yang tepat. Lebih dari itu prioritas pembangunan pertanahan
            yang mengedepankan penataan kembali penggunaan, penguasaan dan
            pemilikan tanah menunjukkan bahwa kebijakan reforma agraria telah
            menemukan jalan kembali, setelah ’tersesat’ lebih dari tiga dekade
            sejak kelahiran UUPA. Namun demikian, momentum tersebut belum
            dimanfaatkan secara baik oleh segenap stake holder di lingkungan Badan
            Pertanahan Nasional dan STPN.










            640      Ilmu Agraria
   666   667   668   669   670   671   672   673   674   675   676