Page 673 - Asas-asas Keagrariaan: Merunut Kembali Riwayat Kelembagaan Agraria, Dasar Keilmuan Agraria dan Asas Hubungan Keagrariaan di Indonesia
P. 673

Secara geografis Indonesia adalah sebuah “Benua Maritim”. Inilah
            ontologi Indonesia sebagai sebuah negeri. Tapi problemnya, sebagaimana
            juga diidap oleh sistem pendidikan kita yang bias “darat”, ontologi ini telah
            diabaikan sehingga menjadi terpinggirkan. Dalam kaitannya dengan kajian
            agraria di Indonesia, muncul pertanyaan: seberapa jauh ontologi benua
            maritim ini telah berpengaruh terhadap pembentukkan wajah studi dan
            keilmuan agraria di Indonesia?
                 Studi agraria secara umum dipahami sebagai segala sesuatu yang
            berkaitan dengan soal tanah pertanian, atau masalah pertanahan secara
            umum. Pemahaman itu terbentuk karena pengertian “agraria” per se
            memang terutama dibentuk oleh agenda “reforma agraria” (agrarian
            reform). Pengertian reforma agraria sendiri adalah penataan ulang, atau
            restrukturisasi, yang berhubungan dengan pemilikan, penguasaan, dan
            penggunaan sumber–sumber agraria, terutama tanah. Ujungnya, inti
            dari reforma agraria adalah redistribusi pemilikan dan penguasaan tanah.
            Pemilikan dan penguasaan tanah menjadi persoalan penting karena
            berhubungan dengan kemampuan produksi masyarakat tani, yang
            merupakan core activity dalam kegiatan ekonomi semua peradaban.
                 Kembali kepada pertanyaan di muka, yaitu mengenai seberapa jauh
            ontologi benua maritim ini telah berpengaruh terhadap pembentukkan
            wajah studi dan keilmuan agraria di Indonesia, secara sekilas kita menyatakan
            bahwa kajian agraria sejauh ini belum mendudukkan masyarakat dan desa
            pesisir sebagai entitas tersendiri yang memiliki perbedaan corak, karakter,
            dan sejarah dengan masyarakat dan desa pedalaman.
                 Dalam kaitannya dengan desa, yang menjadi obyek kajian agraria,
            kita mengenal klasifikasi “desa perkotaan” dengan “desa perdesaan”.
            “Desa perkotaan” adalah suatu wilayah administratif setingkat desa, atau
            kelurahan, yang memenuhi persyaratan tertentu dalam hal kepadatan
            penduduk, persentase rumah tangga pertanian, dan sejumlah fasilitas
            perkotaan, seperti jalan raya, infrastruktur pendidikan formal, infrastruktur
            kesehatan umum, dan sebagainya. Sedangkan “desa perdesaan” adalah suatu
            wilayah administratif setingkat desa, atau kelurahan, yang belum memenuhi
            persyaratan tertentu dalam hal kepadatan penduduk, persentase rumah
            tangga pertanian, dan sejumlah fasilitas perkotaan dan aksesnya tadi.








            642      Ilmu Agraria
   668   669   670   671   672   673   674   675   676   677   678