Page 672 - Asas-asas Keagrariaan: Merunut Kembali Riwayat Kelembagaan Agraria, Dasar Keilmuan Agraria dan Asas Hubungan Keagrariaan di Indonesia
P. 672
BAB V
RELASI AGRARIA–PERTANAHAN
DARI PERSPEKTIF ILMU AGRARIA
A. Problem ontologis studi Agraria di Indonesia
Seorang ilmuwan pernah berpendapat betapa tidak layaknya menyebut
planet ini sebagai Bumi, bila jelas ia adalah samudera. Arthur C. Clarke,
ilmuwan itu, tentunya tidak sedang bercanda dengan ungkapan itu. Hampir
tiga perempat permukaan bumi ini adalah laut membiru, yang mengepung
hijau daratan di tengahnya. Pun demikian halnya dengan Indonesia.
Angka–angka statistik geografis begitu mendewakan laut. Tengoklah luas
2
laut kita yang 7,9 juta km , atau sekira 70% dari luas Indonesia. Gugus–
gugus pulau sejumlah 17.508 yang berderet–deret menghiasinya. Garis
pantai sepanjang 81.000 km yang tercatat sebagi garis pantai terpanjang
sedunia. Jelas sekali betapa Indonesia begitu identik dengan laut.
Namun laut bukan sekadar fenomena geografis semata. Sejarah
mencatat bahwa laut juga pernah menjadi tulang punggung peradaban
yang disegani dunia. Moyang bangsa Indonesia pernah begitu disegani
“negeri atas angin”, sebuah terminologi yang dipakai Pramoedya Ananta
Toer untuk menyebut negara–negara Utara dalam novelnya, Arus Balik.
Riwayat peradaban maritim kini telah tergilas dengan hanya
menyisakan kesan–kesan romantik dan melankoli. Menyedihkan memang.
Kita mulai meminggirkan pesisir dan mempercayai bahwa daratan adalah
segalanya, segala pusat peradaban manusia, pusat ekonomi, dan segala
aktivitas kehidupan dirayakan. Benarkah demikian?
641

