Page 432 - Konstitusionalisme Agraria
P. 432

Republik Indonesia, yaitu untuk mengatasi berbagai praktik-praktik
            ketidakadilan yang diterapkan oleh penguasa kolonial terhadap tanah
            dan penduduk di kepulauan Indonesia. Masalah-masalah agraria
            adalah topik yang selalu melekat dalam pidato, tulisan dan kegiatan
            pengorganisasian yang dilakukan oleh pejuang kemerdekaan.
                 Setelah Republik Indonesia terbentuk dilakukan berbagai
            upaya untuk mengubah keadaan. Pemerintah membangun dasar-
            dasar bagi perombakan struktur agraria kolonial, menciptakan
            tatanan hukum baru dan sekaligus melancarkan program land
            reform untuk melaksanakan perombakan tersebut. Namun upaya
            tersebut tidak berhasil sepenuhnya. Rezim pemerintahan Orde Baru
            dibawah Jenderal Soeharto memutar arah politik hukum agraria dari
            yang tadinya berorientasi pada perombakan struktur penguasaan
            tanah untuk menciptakan pemerataan menjadi politik hukum
            agraria yang berorientasi pada efisiensi, pertumbuhan ekonomi dan
            ekstraksi sumber daya alam. Akibatnya konflik agraria kian lama kian
            meningkat, masif dan meluas. Pada masa paska Orde Baru terdapat
            upaya untuk melakukan koreksi terhadap kebijakan yang dipraktikan
            oleh Rezim Orde Baru. Upaya perubahan tersebut tidak memberikan
            hasil yang mendasar dan malah terbawa arus neoliberalisme yang
            semakin memperkuat kebijakan ekstraktif, pro-modal asing dan
            orientasi pertumbuhan yang dipraktikan oleh Rezim Orde Baru.
                 Ketimpangan penguasaan tanah dan sumber daya alam lainnya
            semakin melebar. Hal ini merupakan faktor utama terjadinya
            konflik. Pada tahun 2003 BPN menggambarkan situasi ketimpangan
            tersebut dengan mengeluarkan data bata bahwa mayoritas petani
            (84 persen) menguasai tanah pertanian kurang dari satu hektar
            dan hanya 16 persen petani menguasai tanah lebih dari satu hektar.
            Kesempatan petani untuk memperoleh akses terhadap tanah juga
            semakin menyempit (Sumardjono, 2009:103-4). Hal itu ditambah lagi
            dengan kebijakan pertanahan semakin adaptif terhadap mekanisme
            pasar yang mendorong pemerintah menerapkan kebijakan yang
            memberikan peluang seluas-luasnya bagi perusahaan untuk
            berkembang, termasuk dengan memberikan tanah dan sumber daya
            alam lainnya kepada perusahaan tersebut agar bisa berkembang.


                                        Konstitusionalisme dan Reforma Agraria     401
   427   428   429   430   431   432   433   434   435   436   437