Page 437 - Konstitusionalisme Agraria
P. 437

UUPA, maka semua peraturan pertanahan harus ditujukan untuk
            terwujudnya sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, sedangkan
            ruang lingkupnya pengaturan pertanahan dibatasi oleh Pasal 2 ayat
            (2) UUPA. (Sumardjono, 1998). Dua pembatasan tersebut menjadi
            penting mengingat HMN merupakan suatu konsepsi pokok dalam
            UUPA yang kemudian dijadikan sumber dari undang-undang
            atau pun regulasi lainnya yang dirumuskan kemudian berdasar
            perkembangan dan kebutuhan masyarakat. Sebagai contoh,
            pembatasan konstitusi. Dengan semakin kuatnya pengakuan dan
            perlindungan konstitusi pasca Amandemen terhadap hak asasi
            manusia dan hak masyarakat hukum adat, maka pengaturan tentang
            HMN harus benar-benar memperhatikan asas ini.
                 Sementara itu Konsorsium Pembaruan Agraria menyebutkan
            bahwa penyebab pokok dari konsentrasi penguasaan tanah dan
            sengketa agraria adalah penggunaan suatu “Kekuasaan Negara atas
            Tanah” yang berlebihan, yang diwakili oleh konsep politik hukum
            hak menguasai tanah oleh negara. Konsorsium Pembaruan Agraria
            (KPA) mengusulkan adanya pembatasan hak menguasai oleh
            Negara atas tanah. Pembatasan itu bisa dilakukan dengan me-review
            berbagai undang-undang yang berhubungan dengan “kekuasaan
            negara atas tanah” yang terlampau besar.
                 Lebih lanjut Noer Fauzi dan Dianto Bachriadi yang merupakan
            eksponen KPA mengusulkan bahwa perubahan konsep HMN
            diperlukan setidaknya empat pertimbangan utama; Pertama,
            secara substansial, konsep HMN mengasumsikan penyerahan
            “Kekuasaan masyarakat hukum adat atas tanah” kepada negara
            dimana tanah-tanah adat dijadikan tanah-tanah negara; Kedua,
            HMN berkedudukan lebih tinggi dari hak milik perdata warga
            negara, padahal negara dibentuk dengan maksud melindungi hak
            dari warga negaranya; Ketiga, mandat HMN untuk sebesar-besarnya
            kemakmuran rakyat, tidak dijalankan dalam rangka penataan
            penguasaan atas tanah yang timpang. Bahkan sebaliknya, dengan
            berdalih pada konsep HMN dilakukan pemberian hak-hak tanah
            baru yang sangat besar melalui hak pengusahaan hutan, kuasa
            pertambangan, hak guna usaha dan yang lainnya; dan Keempat,


               406     Konstitusionalisme Agraria
   432   433   434   435   436   437   438   439   440   441   442