Page 438 - Konstitusionalisme Agraria
P. 438

pengunaan HMN melalui pemberian hak-hak baru tersebut, telah
            mengakibatkan konsentrasi penguasaan tanah disatu pihak dan
            sengketa-sengketa agraria yang berkepanjangan dilain pihak (Fauzi
            dan Bachriadi, 1998:232).
                 Berbagai pandangan di atas memperkuat argumentasi
            mengenai perlu dilakukannya pembatasan terhadap konsep HMN.
            Gagasan di dalam buku ini bertolak pada pandangan bahwa
            pemaknaan baru dan pembatasan terhadap konsep HMN, yang
            meskipun di dalam berbagai Putusan Mahkamah Konstitusi tidak
            mempergunakan istilah ini, perlu dilakukan untuk merubah cara
            pandang penyelenggara negara dalam menjalankan kekuasaan yang
            diembannya. Dua pembatasan konstitusional yang bisa dipergunakan
            pertama berkaitan dengan tujuan bernegara (teleologis-filosofis).
            Sebagaimana digariskan di dalam pembukaan UUD 1945 bahwa
            tujuan dibentuknya pemerintahan Republik Indonesia adalah
            untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah
            darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum,
            mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut pelaksanakan ketertiban
            dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan
            keadilan sosial,…” Tujuan tersebut harus menjadi bintang pemandu
            dari segala tindakan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara oleh
            pemerintah, rakyat dan seluruh elemen yang ada. Sejalan dengan
            prinsip pertama itu, maka penyelenggara harus menginsafi bahwa
            pelaksanaan kewenangan yang dimilikinya yang bersandar pada
            konsep HMN harus ditujukan untuk mencapai tujuan bernegara
            yang melindungi rakyatnya.
                 Kedua perlu pula pemahaman yang menciptakan keseimbangan
            peran dalam hal pengurusan tanah dan sumber daya alam lainnya.
            Konsepsi HMN memberikan porsi yang sangat besar dan bahkan
            superior kepada negara. Hal itu pula yang kemudian dalam
            praktiknya menimbulkan permasalahan pengabaian terhadap
            pengemban hak yang penting dalam konteks penguasaan tanah dan
            sumber daya alam lainnya. Upaya untuk mewujudkan keseimbangan
            itu dapat dilakukan dengan penegasan terhadap keberadan hak
            privat dan hak ulayat masyarakat adat yang keberadaannya juga


                                        Konstitusionalisme dan Reforma Agraria     407
   433   434   435   436   437   438   439   440   441   442   443