Page 443 - Konstitusionalisme Agraria
P. 443

pelaksanaan program tersebut. Keterkaitan antara agenda reforma
            agraria dengan reformasi hukum diteorisasi oleh Michael Lipton
            dalam karya terbarunya Land Reform in Developing Countries.
            Property Rights and Property Wrong. Lipton mendefinisikan land
            reform sebagai “Perundang-undangan (legislasi) yang diniatkan
            dan benar-benar diperuntukan meredistribusi kepemilikan
            (mewujudkan) klaim-klaim, atau hak-hak atas tanah pertanian,
            dan dijalankan untuk memberi manfaat pada kaum miskin dengan
            cara meningkatkan status, kekuasaan, dan pendapatan absolute
            maupun relatif mereka, berbanding dengan situasi tanpa perundang-
            undangan” (Lipton, 2009:328). Dengan demikian, reforma agraria
            tidak saja menjadi program pemberdayaan (empowerment)
            petani, melainkan juga menjadi juga menjadi penidakberdayaan
            (disempowerment) penguasa dan para tuan tanah yang mungkin
            menghambat terlaksananya reforma agraria (Fauzi, 2012:2).
                 Pada banyak negara, reforma agraria dimulai dengan merombak
            tatanan hukum untuk memberikan dasar-dasar yang kuat bagi
            pelaksanaan program tersebut. Program land reform yang dicanangkan
            oleh Presiden Soekarno pada awal dekade 1960-an pun didahului
            dengan pembentukan sejumlah peraturan perundang-undangan,
            seperti UUPA dan UU No. 56/Prp/1960 tentang Penetapan Luas
            Lahan Pertanian. Bahkan sebelum itu telah didahului dengan undang-
            undang yang menghapus tanah partikelir dan tanah desa perdikan.
                 Pada masa reformasi upaya untuk merombak tatanan hukum
            yang menjadi prasyarat dari reforma agraria dilakukan dengan
            melahirkan Ketetapan MPR No. IX/MPR/2001 tentang Pembaruan
            Agraria dan Pengelolaan Sumber Daya Alam untuk menjadi
            prinsip-prinsip pemandu dilakukannya perombakan hukum bagi
            pelaksanaan reforma agraria. Ketetapan tersebut menghendaki
            dilakukannya pengkajian ulang terhadap berbagai peraturan
            perundang-undangan di bidang agraria dan pengelolaan sumber
            daya alam. Pasal 6 ketetapan tersebut berbunyi:

                 “Menugaskan  Dewan  Perwakilan  Rakyat  Republik  Indonesia
                 bersama Presiden  Republik  Indonesia  untuk  segera  mengatur
                 lebih  lanjut  pelaksanaan pembaruan agraria dan pengelolaan sumber

               412     Konstitusionalisme Agraria
   438   439   440   441   442   443   444   445   446   447   448