Page 445 - Konstitusionalisme Agraria
P. 445

mempergunakan prinsip-prinsip pembaruan agraria dan pengelolaan
            sumber daya alam yang terdapat di dalam Ketetapan  MPR No. IX/
            MPR/2001 dan prinsip-prinsip konstitusional yang berkembang
            dalam berbagai putusan Mahkamah Konstitusi. Kedua, proses
            pengkajian ulang tersebut harus menjadi bagian dari proses legislasi
            sehingga harus masuk ke dalam program legislasi nasional. Sehingga
            rekomendasi dari hasil pengkajian ulang tersebut merupakan agenda
            resmi dari lembaga negara untuk melakukan koreksi terhadap
            peraturan perundang-undangan. Ketiga, hasil dari pengkajian
            ulang terhadap undang-undang tersebut harus bersifat konsolidatif
            sehingga bisa mengatasi persoalan sektoralisme pengaturan mengenai
            tanah dan sumber daya alam yang terjadi selama ini.
                 Salah satu cara yang dapat ditempuh untuk mengkonsolidasikan
            undang-undang di bidang tanah dan sumber daya alam adalah dengan
            membentuk “Kitab undang-undang.” Kitab undang-undang dimaksud
            adalah konsolidasi dari berbagai undang-undang di bidang tanah dan
            sumber daya alam. Cara ini menjadi salah satu secara ampuh untuk
            mengurangi persoalan sektoralisasi dalam pengurusan tanah dan
            sumber daya alam. Semua penyelanggara negara menjadikan kitab
            undang-undang tersebut sebagai rujukan dalam melaksanakan
            tugasnya dan sekaligus menjadi dasar bagi masyarakat untuk
            menuntut haknya. Dengan pembentukan kitab undang-undang
            maka dapat dilakukan penyederhanaan dan harmonisasi pengaturan
            mengenai tanah dan sumber daya alam lainnya.
                 Pembentukan kitab undang-undang mengenai tanah dan
            sumber daya alam lainnya bukanlah pekerjaan mudah karena
            memerlukan tenaga dan waktu yang tidak singkat. Setidaknya
            beberapa tantangan utama dalam melakukan pembentukan kitab
            undang-undang tersebut antara lain: Pertama, kemauan politik yang
            kuat dari penguasa untuk mengoreksi undang-undang di bidang
            tanah dan sumber daya alam lainnya. Meskipun ketetapan MPR
            telah memerintahkan dilakukan pengkajian ulang, namun kemauan
            yang lemah dari penguasa baik Presiden maupun DPR selama ini
            menjadi faktor penghambat dalam melakukan koreksi terhadap
            undang-undang yang ada. Kedua, keahlian dan kemampuan untuk


               414     Konstitusionalisme Agraria
   440   441   442   443   444   445   446   447   448   449   450