Page 137 - Potret Perjuangan Bapak Hukum Agraria Prof. Boedi Harsono
P. 137
Oloan Sitorus & Taufik N. Huda
Penulis pun memenuhi permintaan tersebut. Tidak disangka, Prof.
Boedi Harsono tidak berkenan dengan cara seperti itu. Beliau ber-
kata: “tidak ada yang boleh memberikan soal ujian, sebelum saya
memulai perkuliahan”. Sekaligus menyatakan bahwa Prof. Boedi
Harsono akan tetap memberikan soal mid-semester. Ketika beliau
kemudian datang memberikan kuliah perdana setelah jadwal ujian
mid semester selesai, tampak wajah dan mimik beliau sangat marah
pada penulis. Penulis dapat memahami kemarahan beliau. Penulis
berpikir positif saja, sambil terus mendampingi dan melayani be-
liau selama 2 (dua) hari memberikan kuliahnya.
Selama mendampingi dan melayani beliau pada kuliah
perdana di atas, sikap penulis selalu berusaha “tabah” sebagai
asisten yang sangat membutuhkan tuntunan beliau, sambil tetap
berusaha “mencuri” hatinya dengan cara selalu menyuguhkan
minuman soft drink kesukaannya. Akhirnya, pada hari kedua
perkuliahan, tampak sikap beliau telah memberikan maaf pada
kelancangan penulis. Beliau pun tidak jadi memberikan soal mid-
semester pengganti yang diberikan penulis. Namun beliau bertanya
tentang soal yang telah diujikan dan pada soal mana mahasiswa
mengalami kesulitan menjawabnya. Penulis berusaha menjawab
pertanyaan beliau sebaik mungkin dan tampaknya beliau berkenan
pada jawaban penulis. Sejak saat itu, penulis semakin hati-hati
memahami kebiasaan, gaya, dan tata krama berinteraksi dengan
beliau. Penulis semakin merenungkan suatu pesan moral yang
diberikan oleh Prof. Boedi Harsono, yakni bahwa ilmu pengeta-
huan tidak hanya soal pengetahuan belaka, melainkan juga peng-
hayatan nilai-nilai dan sikap hidup tertentu; bahwa masalah ilmu
pengetahuan bukan sekedar masalah bagaimana mentransfernya
kepada orang lain, melainkan juga bagaimana menghayati nilai-
nilai moral dalam melakukan transfer pengetahuan tersebut.
124

