Page 142 - Potret Perjuangan Bapak Hukum Agraria Prof. Boedi Harsono
P. 142

Potret Perjuangan Bapak Hukum Agraria ....

               Departemen Pekerjaan Umum, Direktorat Penyiapan Tanah Pemukiman
               Transmigrasi. Selain itu, pada waktu akhir tahun 1979 saya diminta oleh
               Fakultas Hukum untuk mengikuti Program Pascasarjana Non Degree,
               Studi Pembangunan Indonesia yang diselenggarakan oleh Fakultas Ilmu
               Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UI bekerjasama dengan ISS Den Haag.
               Beliau mengijinkan saya untuk mengikuti program tersebut. Beliau juga
               membimbing saya pada saat saya harus menyelesaikan penelitian mandiri
               saya yang berjudul “Redistribusi Tanah di Kecamatan Kakan, Kabupaten
               Minahasa”.
                   Demikian pula ketika  pada awal tahun 1980 saya memohon ijin
               untuk meneruskan Program S2 saya di Amerika, tepatnya University of
               Wisconsin, Law School, Madison, beliau sangat mendukung bahkan
               mengarahkan saya untuk memfokuskan diri pada bidang Landreform
               dan Penatagunaan Tanah. Pada saat itu sekitar tahun 1980 asisten beliau
               di FH UI ada 3 (tiga) orang, yakni saya sendiri, Sdr. Dr. Bambang Prabowo,
               S.H.,  dan Bapak Sunaryo Basuki, S.H. Begitu pulang dari Amerika saya
               diserahi tugas untuk mengajar mata kuliah pendalaman Hukum Agraria
               yang disebut Landreform dan Tataguna Tanah. Pada masa-masa itu yang
               paling berkesan di hati saya adalah pujiannya pada setiap berkumpulnya
               beliau dengan asisten-asistennya, baik yang di FH UI maupun di FH
               Trisakti. Beliau selalu mengatakan “Ini satu-satunya asisten saya yang
               sudah S2”, sambil memeluk dan memukul-mukul pundak saya. Berkesan
               mendalam pula, ketika beliau meminta saya (dari FH UI) dan Bapak
               Hasni (dari FH Trisakti) untuk meneruskan studi Program S3. Namun,
               karena faktor keluarga kami berdua tidak dapat memenuhi keinginan
               beliau. Begitu pun,  beliau memahami kondisi kami berdua,  sampai
               akhirnya beliau meminta saya untuk melakukan penelitian mandiri untuk
               mencapai gelar akademis tertinggi yaitu Guru Besar.
                   Selain membimbing saya sebagai asisten/pembantu dan penerus cita-
               cita di bidang Hukum Agraria, beliau sangat memahami kondisi saya

                                                                   129
   137   138   139   140   141   142   143   144   145   146   147