Page 143 - Potret Perjuangan Bapak Hukum Agraria Prof. Boedi Harsono
P. 143
Oloan Sitorus & Taufik N. Huda
dan keluarga saya karena beliau mengikuti dengan cermat perkembangan
kehidupan berkeluarga saya, mulai dari menikah, mempunyai anak-anak
dengan berbagai permasalahannya ketika anak-anak masih kecil dan
perkembangan pendidikan anak saya. Saya masih ingat pada saat Almar-
humah Ibu tercinta masih hidup, setiap tahun saya sekeluarga, suami dan
anak saya Nani yang masih balita selalu datang pada Hari Raya Idul
Fitri. Saya merasa terharu ketika beliau mengajak Nani dan menggandeng
tangan kecilnya mengelilingi rumahnya di Jl. Musi sambil bercerita
tentang kebun, mobil dan segala sesuatu yang ada di rumah itu walaupun
Nani yang nakal sering menumpahkan gelas minuman yang sudah dihi-
dangkan, sehingga merepotkan Almarhumah yang harus bolak-balik
mengganti minuman. Padahal, saat itu tidak ada pembantu. Beliau sangat
senang ketika mengetahui bahwa anak saya yang sulung bernama sama
dengan Almarhumah Ibu Boedi Harsono dan mengatakan “namamu sama
dengan namanya eyang puteri ya”. Sewaktu Almarhumah Ibu Boedi
Harsono meninggal dunia pada akhir tahun 1988 saat itu saya sedang
hamil tua anak yang ke 2 dan saya ingat sekali dalam kesedihan beliau,
beliau melarang saya untuk duduk di bawah untuk berdoa dekat jenazah
almarhumah karena perut saya sudah besar dan kemudian beliau mengam-
bilkan saya kursi untuk tempat duduk.
Selama 30 tahun lebih saya menjadi asisten dan pembantunya.
Banyak hal-hal positif yang dapat saya pelajari dari pribadi beliau yaitu
berpendirian teguh, berfikir positif, sabar, dan selalu dapat menahan
amarah. Kalau beliau sudah tidak mau berbicara lagi (diam) dengan
seseorang berarti beliau sudah sangat marah. Hal itu pernah saya perhatikan
sendiri pada saat beliau tersinggung dengan sepak terjang dari salah satu
asistennya yang pada akhirnya beliau secara diam-diam memutuskan
bahwa orang tersebut tidak dianggap sebagai asistennya lagi. Pengalaman
lain yang paling berkesan bagi saya tentang beliau adalah pada saat saya
ingin diajukan oleh Dewan Guru Besar Universitas Indonesia sebagai
130

