Page 144 - Potret Perjuangan Bapak Hukum Agraria Prof. Boedi Harsono
P. 144

Potret Perjuangan Bapak Hukum Agraria ....

               calon Guru Besar di bidang Hukum Agraria di FH UI, tanpa komentar
               apa-apa beliau langsung menandatangani surat rekomendasi untuk men-
               dukung pencalonan saya tersebut dengan kata-kata yang sangat memukau.
               Surat rekomendasi tersebut kemudian saya laminating dan masih saya
               simpan  dalam berkas di ruang kerja saya hingga saat ini. Pada saat saya
               mendapatkan SK Pengangkatan sebagai Guru Besar dan memperlihat-
               kannya kepada beliau, beliau memeluk pundak saya dan mengatakan
               “saya baru melihat 2 (dua) SK Guru Besar di bidang Hukum Agraria,
               yaitu SK saya dan SK kamu Arie..”. Sewaktu acara pengukuhan saya
               sebagai Guru Besar, selesai saya menyampaikan pidato pengukuhan, beliau
               melakukan tindakan di luar acara ceremonial upacara pengukuhan yaitu
               tiba-tiba beliau berdiri dan menghampiri saya untuk memberikan selamat
               serta memeluk saya. Seharusnya pemberian selamat pertama dilakukan
               oleh Rektor UI.
                   Kesan saya terakhir bersama beliau yaitu menjelang hari ulang tahun
               saya yang ke 60 tahun. Tepatnya 2 (dua) minggu sebelumnya saya bertemu
               dengan beliau di ruang kerjanya di Fakultas Hukum Trisakti bersama
               dengan asisten lainnya yang kebetulan semuanya wanita. Pada saat itu
               adik-adik asisten dari FH Trisakti mengatakan, “Bapak … Mbak Arie
               sebentar lagi mau ulang tahun yang ke 60 loh…tepatnya sesudah UUPA”.
               Lalu saya katakan, “ya, saya akan berusia 60 tahun, sedangkan UUPA 51
               tahun”. Kemudian Beliau menjawab, “ah…60 tahun itu masih muda,
               saya saja sudah 90 tahun”. Saya tanggapi kata-kata beliau dengan candaan,
               “loh…Bapak kan 90 tahun itu baru nanti bulan Mei tahun depan, tidak
               baik loh pak mendahulukan Allah” (saya jadi menyesal mengatakan hal
               seperti itu).  Begitulah canda tawa kita terakhir dengan beliau karena saat
               itu beliau sedang sakit akibat terjatuh sewaktu ingin memindahkan patung
               di rumah sehingga beliau harus memakai kursi roda. Pada pertemuan itu
               saya juga menyampaikan kepada beliau tentang rencana saya untuk
               mengadakan acara syukuran ulang tahun saya yang ke 60 tahun sekaligus

                                                                   131
   139   140   141   142   143   144   145   146   147   148   149