Page 165 - Potret Perjuangan Bapak Hukum Agraria Prof. Boedi Harsono
P. 165

Oloan Sitorus & Taufik N. Huda
            pelaksanaan UUPA, kiranya tepat dimaknai dengan melakukan
            penyempurnaan terhadap PP No. 224 Tahun 1961 tentang
            Pelaksanaan Pembagian Tanah dan Pemberian Ganti Kerugian
            menjadi PP tentang Redistribusi Tanah. Di dalam PP tentang
            Redistribusi Tanah yang dicita-citakan itu, kelak akan diatur
            bagaimana memungkinkan tanah-tanah yang diperoleh dari hasil
            penataan kembali struktur penguasaan dan pemilikan tanah,
            termasuk hasil penertiban tanah terlantar diredistribusikan kepada
            yang membutuhkan dan hasil penyelesaian sengketa dan konflik
            pertanahan, untuk diredistribusikan kepada rakyat sebagaimana
            pesan Presiden di atas.
                Di dalam PP ini kelak ditegaskan bahwa hakikat redistribusi
            tanah  bukanlah sekedar “konsep hukum” yang akan melegalisasi
            penguasaan dan pemilikan, melainkan dikembalikan pada ide
            dasarnya sebagai “konsep ekonomi” yang ingin meratakan atau
            menyeimbangkan kembali penguasaan dan pemilikan tanah di
            Indonesia, untuk menciptakan keseimbangan penguasaan dan
            pemilikan tanah yang didambakan itu.
                Prof. Boedi Harsono menyadari sumberdaya manusia perta-
            nahan sebagai salah satu unsur penting dari sistem Hukum Agraria
            yang akan dikembangkan. Di tangan sumberdaya manusia yang
            baik, pelaksanaan aturan hukum agraria akan lebih efektif. Bahkan,
            para pendiri bangsa Indonesia berkeyakinan terhadap peran
            sentral sumberdaya manusia dalam proses penyelenggaraan
            negara ini. Penjelasan Umum Bagian IV UUD 1945 menandaskan:
            “… meskipun Undang-undang Dasar itu tidak sempurna, akan
            tetapi jikalau semangat para penyelenggara pemerintahan baik,
            Undang-undang Dasar itu tentu tidak akan merintangi jalannya
            negara.” Menurut Satjipto Rahardjo, penjelasan otentik UUD terse-
            but memiliki nilai teoretis yang amat penting karena menjatuhkan

            152
   160   161   162   163   164   165   166   167   168   169   170