Page 163 - Potret Perjuangan Bapak Hukum Agraria Prof. Boedi Harsono
P. 163

Oloan Sitorus & Taufik N. Huda
            akan memusatkan penguasaan  tanah pada badan hukum, bukan
            pada kebanyakan rakyat Indonesia sebagaimana menjadi ide dan
            semangat UUPA. Semua produk hukum yang menyimpang dari
            semangat UUPA itu berlangsung seolah-olah seperti suatu
            kesesatan yang tidak disadari.
                Memang sekarang ada ikhtiar untuk menyusun Rancangan
            Undang-undang (RUU) Pertanahan, kalaupun ini tetap dilanjutkan
            seyogianyalah dilakukan dengan menempatkannya sebagai
            “aturan hukum pelaksanaan” UUPA, tidak untuk menggantikan
            UUPA.  Pilihan seperti itu harus sangat hati-hati dilakukan, sebab
            jika ketentuan UU Pertanahan itu kelak ternyata ada yang berten-
            tangan dengan UUPA, maka berdasarkan asas lex spesialis derogat
            lex generalis ketentuan UU Pertanahan itulah yang kelak yang akan
            memenangkan konflik pengaturan tersebut.
                Dari aspek substansi, materi-muatan RUU Pertanahan itu
            kiranya harus menegaskan sikap politik hukum yang terdapat
            dalam UUPA. Sebagaimana diketahui, logika-agraria yang
            terkandung di dalam UUPA,  yang terlebih dahulu dilaksanakan
            dari semua tahapan pengelolaan pertanahan adalah melakukan
            penataan kembali struktur penguasaan dan pemilikan tanah yang
            adil. Aspek keadilan sosial dalam penguasaan dan pemilikan tanah
            harus mendahului aspek kesejahteraan sosial dari penggunaan
            dan pemanfaatan tanah. Artinya, setelah dilakukan penataan kem-
            bali struktur penguasaan dan pemilikan tanah, barulah ditindak-
            lanjuti dengan penataan penggunaan dan pemanfaatan tanah.
            Dalam pemahaman yang demikian, pada tahap awal ini pula,
            sekaligus dilakukan pengaturan tentang penertiban dan penda-
            yagunaan tanah terlantar yang dimaksud dalam UUPA, sehingga
            tidak ada lagi perdebatan tentang baju hukum pengaturan tanah
            terlantar yang selama ini dianggap terlalu “tipis”, sehingga

            150
   158   159   160   161   162   163   164   165   166   167   168