Page 161 - Potret Perjuangan Bapak Hukum Agraria Prof. Boedi Harsono
P. 161

Oloan Sitorus & Taufik N. Huda

            untuk ditujukan pula terutama bagi kesejahteraan ‘sebesar-besar
            kemakmuran rakyat’, dalam arti keadilan dan kesejahteraan
            seluruh rakyat Indonesia. Sampai pada akhir hayatnya, Prof. Boedi
            Harsono tetap berkeyakinan bahwa landasan hukum paling tepat
            untuk mencapai tuntutan etis itu adalah UUPA, sehingga UUPA
            masih tetap perlu dipertahankan.
                UUPA dengan prinsip nasionalitas dan populisme yang pekat
            terkandung di dalamnya, sesungguhnya telah memberikan
            landasan pokok untuk mewujudkan kedaulatan agraria bagi bang-
            sa Indonesia. Yang menjadi persoalan pokok adalah apakah para
            penyelenggara negara masih memiliki komitmen yang kuat untuk
            menjadikan UUPA sebagai acuan hukum yang utama   dalam
            mewujudkan tanah bagi sebesar-besar kemakmuran rakyat? Per-
            tanyaan itu semakin menguat saat ini ketika konflik-konflik agraria
            terus membahana di seluruh negeri kita, ketika ketidakadilan agra-
            ria semakin parah, dan ketika rakyat secara perlahan-lahan namun
            terus-menerus tercerabut dari tanah-tumpah-darahnya.
                Ironisnya, semua ketidakadilan agraria itu  terjadi di atas berla-
            kunya berbagai aturan hukum yang semakin cenderung tidak
            sinkron.  Ketidaksinkronan aturan hukum saat ini sesungguhnya
            bukanlah sekedar persoalan teknis ketidakmampuan bangsa ini
            dalam membuat produk hukum yang sinkron atau harmonis. Lebih
            dari pada itu, bangsa ini tampaknya sedang memiliki banyak ke-
            pentingan yang saling berbenturan. Benturan kepentingan ini
            semakin berarti meningkatkan keruwetan persoalan oleh karena
            seakan-akan berbagai pihak yang berkepentingan itu tidak mampu
            lagi melihat adanya kepentingan yang lebih besar, yakni terwu-
            judnya Indonesia yang adil, makmur, dan berdaulat.
                Sekali lagi, dalam kondisi bangsa Indonesia yang seperti
            itulah kita perlu mencermati dan meneladani sikap-hukum Prof.

            148
   156   157   158   159   160   161   162   163   164   165   166