Page 156 - Potret Perjuangan Bapak Hukum Agraria Prof. Boedi Harsono
P. 156

Potret Perjuangan Bapak Hukum Agraria ....

               maka kami menjawab siap. Dan beliau mengatakan “saya sudah lega”.
                   Rupa-rupanya, kebingungan kami ini terjawab beberapa bulan
               kemudian.
                   Pada tanggal 12 September 2011, hari pertama masuk setelah libur
               Idul Fitri, Bapak datang ke Fakultas Hukum Universitas Trisakti dengan
               menggunakan kursi roda. Kami (para asisten, termasuk Prof. Arie Sukanti
               Hutagalung) berkumpul di ruang beliau, untuk menyampaikan ucapan
               Selamat Idul Fitri. Kami semua bertanya mengapa bapak menggunakan
               kursi roda. Beliau mengatakan kalau habis jatuh, sehingga tulang ekornya
               retak dan agak bergeser. Meskipun demikian, kondisi Bapak sangat sehat,
               dan seperti biasa suasana saat itu penuh dengan canda tawa. Bapak dikeli-
               lingi oleh para asisten, yang kesemuanya wanita. Lalu Bapak mengatakan
               jika Bapak mungkin akan menjalani operasi untuk mengembalikan posisi
               tulang ekor, dan bagian yang retak. Lalu dari Mbak Rini (putri sulung
               beliau), saya dikabari bahwa Bapak sudah masuk Rumah Sakit pada hari
               Rabu tanggal 14 September 2011. Pada hari Jumat, tanggal 16 Septem-
               ber 2011, saya dan Mbak Endang Pandamdari, mengunjungi Bapak di
               Rumah Sakit Elizabeth Bekasi Barat. Saat itu kondisi Bapak masih sehat
               sekali, bahkan bisa bercanda terus. Operasi dilaksanakan pada hari Sabtu,
               tanggal 17 September 2011, dengan menggunakan alat khusus yang
               langsung didatangkan dari Singapura. Operasi dinyatakan berhasil,
               tulang yang retak sudah normal kembali, demikian juga dengan posisinya.
               Keadaan Bapak pasca operasi normal. Kami semua bersyukur. Hari
               berikutnya, Bapak tinggal menjalani fisioterapi. Mengingat jarak dari
               Rumah Sakit ke kediaman putri kedua Bapak, Mbak Rini, cukup jauh,
               supaya tidak melelahkan Bapak, diputuskanlah Bapak tetap di Rumah
               Sakit, untuk menjalani fisioterapi. Pada saat akan melangkahkan kaki,
               Bapak agak mengalami kesulitan, sehingga tampaknya hal ini membuat
               Bapak tidak merasa nyaman. Kita bisa membayangkan, di usia 89 tahun
               semula Bapak masih bisa berjalan tanpa menggunakan tongkat, masih

                                                                   143
   151   152   153   154   155   156   157   158   159   160   161