Page 152 - Potret Perjuangan Bapak Hukum Agraria Prof. Boedi Harsono
P. 152

Potret Perjuangan Bapak Hukum Agraria ....

               mempertahankan: (a) Pasal 33 ayat (3) UUD 1945; (b) Hukum Adat
               sebagai sumber utamanya, dilengkapi dengan lembaga-lembaga hukum
               baru dalam memenuhi kebutuhan masa kini dan mendatang, juga dalam
               menghadapi tuntutan era globalisasi dan pelaksanaan kebijakan pemberian
               otonomi kepada daerah; (c) semangat, tujuan, konsepsi, asas-asas dasar,
               lembaga-lembaga hukum dan sistem serta tata susunannya.
                   Sebagaimana dimaklumi obyek pengaturan UUPA bukan hanya
               terbatas pada tanah, melainkan meliputi sumber-sumber daya alam yang
               terkandung di dalamnya. Bahkan dalam batas-batas tertentu juga meliputi
               unsur-unsur dalam ruang angkasa. Dalam perkembangan perundang-
               undangan nasional selama 40 tahun yang lalu sumber-sumber daya alam
               yang lain itu masing-masing sudah mendapat pengaturan dan peraturan
               perundang-undangan tersendiri. Oleh karena itu, undang-undang yang
               akan menyempurnakan isi dan rumusan ketentuan UUPA tersebut akan
               membatasi obyek pengaturannya pada sumber daya alam tanah saja, yaitu
               tanah dalam pengertian yuridis sebagai permukaan bumi.
                   Hal lain yang diyakini kebenarannya oleh Prof. Boedi Harsono sam-
               pai akhir hayatnya adalah status hukum Universitas Trisakti. Di manapun
               beliau berada, dalam kesempatan apapun, beliau selalu mengatakan bahwa
               Universitas Trisakti adalah Badan Hukum. Pendapat beliau ini didasarkan
               kepada apa yang dimuat dalam Pasal 1653 Kitab Undang-Undang
               Hukum Perdata, yang menyatakan: “Selainnya perseroan yang sejati
               oleh undang-undang diakui pula perhimpunan-perhimpunan orang seba-
               gai perkumpulan-perkumpulan, baik perkumpulan-perkumpulan itu
               diadakan atau diakui sebagai demikian oleh kekuasaan umum, maupun
               perkumpulan-perkumpulan itu diterima sebagai diperbolehkan, atau telah
               didirikan untuk suatu maksud tertentu yang tidak bertentangan dengan
               undang-undang atau kesusilaan baik.” Beliau berpendirian bahwa badan
               hukum yang berdasarkan pasal tersebut, tidak memerlukan persetujuan
               Kementerian Hukum dan HAM, ataupun Kementerian Pendidikan dan

                                                                   139
   147   148   149   150   151   152   153   154   155   156   157