Page 155 - Potret Perjuangan Bapak Hukum Agraria Prof. Boedi Harsono
P. 155

Oloan Sitorus & Taufik N. Huda

            tenang bapak selalu ngendiko, “sudah sudah tidak apa-apa”. Dan ini
            diakui oleh dua orang putrinya, Mbak Rini dan Mbak Nita. Bapak berpesan
            kepada keduanya, jangan pernah menyakiti orang lain, meskipun orang
            lain itu membuat kesal diri kita.
                Di kalangan para mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Trisakti,
            Bapak selalu memperlihatkan kehangatan dan rasa cinta yang begitu
            mendalam. Di usianya yang sudah senja, beliau masih menyempatkan
            diri mengajar, baik di Program Sarjana maupun di Program Pascasarjana.
            Setiap kali yudicium Program Sarjana, Bapak menyempatkan diri untuk
            hadir dan memberikan sambutan bagi mahasiswa. Pada acara yudicium,
            beberapa orangtua yang anaknya mendapat penghargaan, turut hadir.
            Dan tidak jarang bahwa di antara para orang tua yang hadir, sebagian
            adalah murid-murid Prof. Boedi Harsono, baik di Program Sarjana, Pro-
            gram Pascasarjana, maupun Program Magister Kenotariatan. Suasana
            bertambah semarak ketika di tengah-tengah sambutannya beliau menye-
            lipkan kata-kata humor, misalnya saja: Beliau mengatakan “saya ini sudah
            tua, walaupun kelihatannya masih muda”. Atau “kalau sudah tua, jangan
            pernah merasa tua, nanti cepat pikun, tetapi jangan juga merasa muda,
            nanti kepingin kawin lagi”. Beliau mengatakan kepada para lulusan untuk
            selalu bangga menjadi lulusan Fakultas Hukum Universitas Trisakti.
            Karena Fakultas Hukum Universitas Trisakti adalah yang terbaik diantara
            Perguruan Tinggi yang baik, yang ada di Indonesia. Kecintaan dan
            perhatian Prof. Boedi Harsono kepada Universitas Trisakti, meskipun itu
            bukan almamaternya, sungguh luar biasa.
                Beberapa bulan yang lalu, saya dan Ibu Endang Pandamdari secara
            khusus dipanggil oleh beliau, yang ketika itu sedang berada di ruang
            Dekan. Beliau mengatakan, hari ini dan seterusnya, saya diminta untuk
            mewakili beliau, sementara itu Ibu Endang, diminta untuk segera menye-
            lesaikan studinya agar ada yang bisa meneruskan beliau. Meskipun saat
            itu kami berdua dalam keadaan kebingungan, tetapi karena beliau minta,

            142
   150   151   152   153   154   155   156   157   158   159   160