Page 154 - Potret Perjuangan Bapak Hukum Agraria Prof. Boedi Harsono
P. 154

Potret Perjuangan Bapak Hukum Agraria ....

               pikun. Bapak tidak hanya berkata-kata, tetapi kata-kata itu beliau terapkan.
               Sampai usia senja bapak tetap berkarya.
                   Suatu saat saya bertanya dengan nada canda, mana pak foto Camelia
               Malik? Beliau lalu mengeluarkan handphonenya, lalu menunjukkan foto
               Ibu Boedi Harsono, dengan senyuman yang khas.
                   Mengapa Anjasmara? Mengapa Camelia Malik? Suatu saat Prof.
               Boedi menunjukkan foto anak-anak sekarang yang kurang rapih penam-
               pilannya. Beliau katakan “coba toh koq anak-anak sekarang ini dandanan-
               nya semaunya sendiri.” Saya katakan iya lah pak, sekarang kan eranya
               kebebasan. Lalu beliau mengeluarkan foto anak muda. Beliau katakan ini
               usianya 19 tahun. Saya tanya siapa ini pak? Beliau berkata lho masak
               nggak kenal to? Jawab saya nggak pak. Ganteng banget. Ini siapa pak?
               Dengan tertawa beliau katakan ini saya sekian puluh tahun yang lalu.
               Saya kaget, lalu tanpa sadar saya katakan wah wah wah koq seperti Anjas-
               mara ya. Ganteng banget. Sedang tentang Camelia Malik, bapak menga-
               takan Camelia Malik itu cantik dan pandai menyanyi. Lalu kami
               asistennya menyebutkan ya ya cantik seperti Ibu ya pak. Sejak saat itu
               kami menyebut Prof. Boedi dengan Anjasmara, dan Ibu dengan sebutan
               Camelia Malik.
                   Begitulah keakraban saya dengan Prof. Boedi Harsono. Beliau benar-
               benar kalau pinjam istilah anak muda sekarang “funky”.
                   Dengan Prof. Boedi Harsono, saya bisa cerita apa saja. Bahkan lebih
               daripada orangtua saya sendiri. Dari hal yang serius, yang berkaitan
               dengan Hukum Tanah,  hal-hal biasa, bahkan kalau saya sedang meng-
               hadapi masalah, saya bisa cerita kepada Bapak, tanpa merasa canggung.
               Biasanya Bapak mendengarkan apa yang saya sampaikan. Kemudian,
               beliau menyampaikan apa yang harus saya lakukan. Hal lain yang saya
               pelajari dari Bapak adalah bahwa beliau tidak pernah menyakiti orang
               lain. Tidak jarang kami matur ke Bapak, kenapa sih bapak koq masih
               menolong orang itu, padahal kan dia sudah menyakiti bapak? Dengan

                                                                   141
   149   150   151   152   153   154   155   156   157   158   159