Page 158 - Potret Perjuangan Bapak Hukum Agraria Prof. Boedi Harsono
P. 158

Potret Perjuangan Bapak Hukum Agraria ....

               buhan beliau. Tetapi rupanya Tuhan berkehendak lain, akhirnya tepat di
               hari Selasa tanggal 18 Oktober 2011 Bapak harus pergi menghadap Sang
               Khalik.
                   Perasaan sedih dan duka menyelimuti seluruh sivitas akademika
               Universitas Trisakti, terutama Fakultas Hukum.
                   Banyaknya orang yang hadir, karangan bunga, dan ungkapan bela-
               sungkawa dari berbagai pihak adalah bukti bahwa Bapak adalah seorang
               yang sangat dihormati dan dikagumi.
                   Bapak adalah seorang mantan pejabat yang berbeda dengan mantan-
               mantan pejabat lain. Meskipun sudah tidak menjabat, tetapi di kalangan
               Badan Pertanahan Nasional Bapak selalu dihormati. Ketika saya dan
               Mbak Endang Pandamdari mendampingi Bapak ke Medan, turun dari
               pesawat, pejabat BPN siap di lapangan terbang, menjemput Bapak. Mereka
               semua berebut untuk mencium tangan Bapak. Hal ini sesuatu yang jarang
               terjadi. Yang biasa adalah ketika menjabat, orang menghormati, tetapi
               ketika tidak lagi menjabat orang menjadi lupa. Tetapi tidak dengan seorang
               yang bernama Prof. Boedi Harsono.
                   Bapak adalah sahabat sejati, Bapak adalah Guru dalam arti yang
               sebenar-benarnya, digugu dan ditiru. Bapak lebih banyak berkarya dari-
               pada berbicara. Tidak berlebihan jika saya menyebut Prof. Boedi Harsono
               adalah BAPAK HUKUM TANAH NASIONAL.
                   Menulis kenangan Prof. Boedi Harsono, tidak cukup dengan sejuta
               kata. Rangkaian kata saja tidak cukup untuk menggambarkan sosok seorang
               Boedi Harsono.
                   Selamat jalan Profesorku, “Anjasmaraku”, meskipun engkau tidak
               lagi bisa menemaniku, membimbingku, tetapi semangat dan teladanmu
               tetap menyala dan menjadi suluh bagiku. Engkau tidak tergantikan oleh
               apapun dan siapapun juga, dengan doa dan semangat yang engkau
               tinggalkan kepada kami murid-muridmu dan sekarang adalah asistenmu,
               kami akan meneruskan cita-citamu, berkarya, memperjuangkan eksistensi

                                                                   145
   153   154   155   156   157   158   159   160   161   162   163