Page 162 - Potret Perjuangan Bapak Hukum Agraria Prof. Boedi Harsono
P. 162
Potret Perjuangan Bapak Hukum Agraria ....
Boedi Harsono bahwa UUPA tetap penting untuk dipertahankan.
Biarlah, penyempurnaannya dilakukan lewat peninjauan kembali
berbagai aturan pelaksanaannya serta lewat pengembangan sum-
berdaya manusia yang akan melaksanakannya.
Dalam konstelasi politik yang pekat ‘keakuan’ kepentingan-
nya, tipis kesadaran ideologi kebangsaannya, dan senang melaku-
kan akrobat politik, kiranya lebih realistis untuk menyempurnakan
berbagai aturan hukum keagrariaan di tingkat aturan hukum
pelaksanaan UUPA. Sebab, beberapa aturan pelaksanaan UUPA
itu - secara sadar atau tidak sadar- disinyalir terdapat yang tidak
konsisten dengan semangat UUPA. Misalnya, adalah tidak tepat
dengan semangat UUPA untuk mendorong percepatan legalisasi
aset secara masif, ketika ketimpangan penguasaan dan pemilikan
tanah belum relatif dikondisikan adil. Bukankah hal itu akan “me-
langgengkan” ketimpangan yang sedang berlangsung? Apalagi,
legalisasi aset itu diakseleresai ketika infrastruktur pendaftaran
tanah yang memastikan pelaksanaan pendaftaran tanah demi
kepastian hukum belum tuntas dibenahi. Bukankah hal itu dapat
berpotensi melahirkan berbagai konflik pertanahan di hari
mendatang? Adalah suatu sikap tidak konsisten dengan watak
nasionalistik UUPA jika peran-peran negara yang utama dalam
pengukuran dan pemetaan kadastral dimungkinkan untuk
diswastakan (diberikan menjadi tugas swasta), sebab produk
pengukuran itu akan menjadi semacam “arsip hidup” selamanya.
Kekhawatiran ini menguat ketika kenyataan hukum di negara kita
sekarang, begitu mudah untuk ‘menghidup-matikan’ suatu badan
hukum. Sekedar menambah contoh, adalah tidak tepat pula kalau
suatu aturan hukum di bawah UUPA yang memungkinkan
pemberian perpanjangan dan pembaharuan hak atas tanah
diberikan pada pemberian awal hak atas tanahnya, sebab hal itu
149

