Page 166 - Potret Perjuangan Bapak Hukum Agraria Prof. Boedi Harsono
P. 166
Potret Perjuangan Bapak Hukum Agraria ....
pilihan kepada teori hukum tertentu dengan membelakangi yang
lain. Pikiran teoretis dalam UUD 1945 menolak digunakannya
Begriffsjurisprudenz, yaitu yang sangat mengandalkan teks dan
kata-kata undang-undang. Penerapan hukum harus menjadi
penerapan undang-undang secara eksak dan otomatis. Kata-kata
undang-undang menjadi pedoman dan pegangan mutlak. Di sisi
lain, tanpa undang-undang, orang tidak dapat berbuat apa-apa.
Aliran atau pikiran tersebut dapat juga dimasukkan ke dalam
‘legalistis-positivistis’. Undang-undang adalah segalanya. Selan-
jutnya Satjipto Rahardjo menyatakan bahwa suasana pemikiran
‘legalistis-positivistis’ tidak ditemukan dalam UUD 1945. Yang
ditemukan adalah penekanan terhadap manusia-manusia pelaku
atau para aktor dalam hukum. Undang-undang ditempatkan pada
baris kedua, sedangkan yang lebih penting adalah semangat dan
kemauan para pelaku dalam hukum. Dengan demikian, pemikiran
hukum para penyusun UUD 1945 mungkin dapat dikatakan lebih
dekat dengan ajaran atau Aliran Hukum Bebas (Freie Rechtslehre)
atau realisme hukum. 2
Hukum Agraria adalah instrumen yang sejak awal dibangun
di atas realisme hukum (law as a tool of social engineering – Roscoe
Pound). Dalam terminologi yang lebih netral, Hukum Agraria
dipandang sebagai sarana transformasi masyarakat. Hal itu tampak
dari Penjelasan Umum UUPA yang menyatakan bahwa salah
satu tujuan UUPA adalah: “meletakkan dasar-dasar bagi penyusunan
hukum agraria nasional yang akan merupakan alat untuk membawakan
kemakmuran, kebahagiaan dan keadilan bagi Negara dan rakyat, terutama
2 Satjipto Rahardjo, Reformasi Hukum Indonesia, dalam “Menuju Tata Indo-
nesia Baru”, Editor Selo Soemardjan, Cetakan Pertama, Penerbit Gramedia Pustaka
Utama, 2000, hlm. 359.
153

