Page 151 - Potret Perjuangan Bapak Hukum Agraria Prof. Boedi Harsono
P. 151
Oloan Sitorus & Taufik N. Huda
vakum. Yang dimaksud terlihat vakum adalah menurunnya kuantitas
pertemuan pengajar Hukum Agraria se Jawa. Hal ini terjadi karena
berbagai sebab, antara lain beberapa anggota yang kesemuanya dosen,
ditugaskan untuk menempuh studi lanjut. Meskipun demikian, eksistensi
Pusat Studi Hukum Agraria ini tetap diperhitungkan. Terbukti dengan
banyaknya permintaan-permintaan dari pihak luar kepada Pusat Studi
guna memberikan opini-opini hukum terhadap beberapa kasus yang
dihadapi.
Prof. Boedi yang saya kenal adalah seorang yang teguh kepada
pendiriannya, terhadap suatu hal yang diyakini beliau benar. Sampai
akhir hayatnya, beliau berpendapat bahwa Undang-Undang Pokok
Agraria yang memuat ketentuan pokok Hukum Tanah Nasional, harus
tetap berlaku utuh. Dalam bukunya Menuju Penyempurnaan Hukum
Tanah Nasional yang diterbitkan oleh Penerbit Universitas Trisakti, Prof.
Boedi menyatakan sebagai berikut: “Penyempurnaan terhadap UUPA
dapat dilakukan dengan melengkapi dan mengadakan penyempurnaan
ketentuan dan rumusan lembaga-lembaga peraturannya, agar tersedia
perangkat hukum yang secara lengkap dan jelas memuat ketentuan-
ketentuan hukum yang dapat menghindarkan penafsiran yang keliru
dalam pelaksanaannya. Dengan demikian benar-benar akan dapat dicip-
takan kepastian hukum dan diberikan perlindungan hukum yang seimbang
kepada semua pihak dalam pelaksanaan pembangunan dan kehidupan
sehari-hari yang memerlukan penyediaan dan penguasaan tanah.
Pelaksanaan pembangunan yang diharapkan benar-benar akan didasarkan
kepada kebijakan baru, yang kembali kepada semangat kebangsaan,
kerakyatan, kebersamaan dan keadilan dari UUPA.” Selanjutnya
beliau menegaskan bahwa penyempurnaan Undang-Undang Pokok
Agraria dilaksanakan dengan melengkapi isi UUPA dan memperbaiki
rumusan ketentuan-ketentuannya dengan suatu peraturan perundang-
undangan berbentuk undang-undang. Segala sesuatunya dengan tetap
138

