Page 130 - 16Feb18-BG Kristen kelas IX.indd
P. 130

khotbah Yesus di bukit, ataukah semuanya ini sebenarnya merupakan intisari dari
              ajaran Yesus. Betapapun juga, hal itu tidaklah begitu penting, sebab yang perlu kita
              perhatikan di sini adalah nilai-nilai yang Yesus sampaikan. Di sini Yesus mengajarkan
              hal-hal yang sama sekali berlawanan dengan apa yang biasanya kita peroleh dari
              dunia. Bagaimana mungkin orang yang miskin yang berdukacita yang lemah lembut,
              dan berbahagia? Di sini Tuhan Yesus mengajarkan bahwa orang-orang inilah yang
              mengerti apa artinya berjalan dalam jalan Allah, dan menyerahkan diri sepenuhnya
              kepada kasih dan pemeliharaan-Nya. Di tengah-tengah kebohongan dan kepalsuan
              dunia orang-orang ini tidak akan puas sebelum menemukan kebenaran. Mereka adalah
              orang-orang berani membawa damai dan memperjuangkan kebenaran, meskipun
              mereka tahu bahwa hal itu dapat membuat mereka dianiaya. Mengapa demikian?
              Karena orang-orang ini percaya bahwa ada sesuatu yang lebih besar dan lebih dalam
              daripada apa yang dapat dilihat secara kasat mata, yaitu bahwa mereka akan memiliki
              Kerajaan Surga, sama seperti para nabi yang telah dianiaya sebelum mereka.
                 Dengan ajaran-ajaran seperti ini, tidaklah mengherankan apabila Donald
              Kraybill, seorang teolog AS, menyebutkan bahwa Kerajaan yang Yesus beritakan itu
              adalah Kerajaan yang sungsang, atau terbalik, karena nilai-nilainya sungguh terbalik
              dibandingkan nilai-nilai dunia.
              2.  Matius 5: 46–48
                 Bagian bacaan ini masih merupakan bagian dari Khotbah di Bukit yang
              disampaikan Yesus dalam Matius 5–7. Di sini Yesus melanjutkan ajaran-Nya yang
              berlawanan 180 derajat dengan ajaran-ajaran dunia. Yesus menuntut kita berbeda
              dari dunia. Bahkan kita harus menjadi sempurna, kata-Nya. Dalam kesempurnaan
              itulah maka pengikut Kristus diajar bukan hanya mengasihi orang-orang yang
              mengasihinya, tetapi juga yang membenci dan memusuhinya. Ini adalah pengajaran
              yang juga disampaikan oleh Rasul Paulus dalam Roma 12: 20: ”Tetapi, jika seterumu
              lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum!”
              3.  Matius 21: 28–31
                 Dalam perumpamaan  Tuhan  Yesus ini, Ia mengajarkan kepada kita betapa
              pentingnya tindakan yang kita lakukan. Berkata-kata yang baik saja tidaklah cukup.
              Kata-kata harus diikuti dengan perbuatan. Ortodoksi (=ajaran yang benar) tidaklah
              cukup. Yang harus kita wujudkan adalah ortopraksis (=cara hidup dan praktik hidup
              yang benar). Hal itulah yang diperlihatkan oleh anak yang kedua yang pertama-
              tama mengatakan tidak mau pergi ke kebun anggur ayahnya. Namun belakangan ia
              berubah pikiran dan kemudian pergi juga. Ini lebih baik daripada anak yang pertama
              yang menyatakan bersedia pergi, namun ternyata ia tidak pergi ke kebun anggur itu.

              4.  Filipi 3: 17–21
                 Surat Rasul Paulus kepada jemaat di Filipi ini mengingatkan mereka bahwa
              mereka memiliki sebuah kewarga(-negaraan) yang lain. Orang Filipi tentu paham
              betul apa yang Paulus katakan. Filipi adalah  koloni Roma sehingga orang-orang




                   Kelas IX SMP
             122
   125   126   127   128   129   130   131   132   133   134   135