Page 344 - Pendidikan Rusak-Rusakan (Darmaningtyas)
P. 344

Sayang,  meskipun    rasional,  pemikiran  di  atas  sulit  diterima
               oleh  pengambil   kebijakan.  Dirjen  Pendidikan  Dasar  dan  Mene-
               ngah,   Indra  Jati  Sidi,  misalnya,  langsung  menolak    gagasan
               penulis  itu.  Menurutnya,   kebijakan   itu  dapat  berakibat  pada
               merosotnya   mutu   pendidikan   nasional.  Ia  mencontohkan,   SMA
               I Jakarta tempat ia bersekolah. Dulu  pada  zamannya, 70%    lulusan
               dari  S M A  I  Jakarta  bisa  diterima  di  ITB  dan  UI,  tapi  setelah
               diterapkan   sistem  rayon  persentase  yang  diterima   di  ITB  dan
               UI  menurun    dratis.

                    Argumen    Pak  Dirjen  itu  betul.  Tapi  ia  lupa  bahwa  menu-
               runnya   mutu   di  SMA  tersebut  berarti  meningkatnya    mutu   di
                            s
               tempat  lain, ehingga  persentase lulusan   SMA   lain yang diterima
               di  ITB  dan  UI  pun  meningkat.  Atau  bahkan   semula   tidak  ada
                                                            s
               sama  sekali  yang  diterima  di  ITB  dan  UI, ekarang  menjadi  ada.
               Terbukti  UI  dan  ITB  tidak  pernah  kekurangan  calon  mahasiswa
               yang  memenuhi    syarat  untuk  dapat  diterima.  Dengan  kata  lain,
               di  sini  terjadi  pemerataan  mutu  pendidikan  nasional.

                    Bagi  penulis,  kebijakan  affirmativeaction  ini  selain  lebih  efek-
               tif,  karena  bersifat  massif di  seluruh  negeri, uga  mengembalikan
                                                              j
               peran  negara  pada  tugas  pencerdasan   bangsa.  Tidak  ada  alasan
               bagi  pemerintah  untuk  tidak  melaksanakan   mandat   yang  diberi-
               kan  kepadanya.   Sekolah-sekolah    negeri  itu  memang   didirikan
               untuk  melayani   semua   warga,  baik  yang  kaya,  miskin,  pintar,
               dan  bodoh.  Bukan   hanya  yang  kaya  dan  pintar  saja.  Sulit  sekali
               bagi  kaum  miskin  dan  bodoh  untuk  memperoleh    layanan  pendi-
               dikan  bila  negara  sendiri  tidak  menciptakan    kebijakan   yang
               kondusif.

                    Justru,  tugas negara yang utama adalah mencerdaskan      mere-
               ka  yang  bodoh   dan  miskin  itu.  Orang  yang  miskin  dan  bodoh
               adalah  bagian  dari  warga  negara  yang  sah  dan  wajib  diberikan
               hak-hak  sosial  dasarnya  oleh  negara.  Negara  melakukan  pelang-
               garan  HAM    bila  tidak  memenuhi   hak-hak   dasar  mereka.  Lagi
               pula,  bila  negara  menolak  tugas  tersebut,  maka  untuk  apa  harus
               ada  negara  dan  harus  ada  Departemen    Pendidikan?
   339   340   341   342   343   344   345   346   347   348   349