Page 343 - Pendidikan Rusak-Rusakan (Darmaningtyas)
P. 343

mereka   yang  miskin  dan  bodoh   itu  justru  ditumpukan  kepada
              para  penyelenggara   pendidikan   swasta   yang  miskin  dan  tidak
              mendapatkan     bantuan  dari  negara.

                   Negara   juga  wajib  mendorong     masyarakat    agar  mereka
              yang  secara  ekonomis   mampu     lebih  baik  memilih  sekolah  di
              swasta,  sehingga    semakin    banyak   ruang   yang   tersedia  di
              sekolah-sekolah  negeri  bagi  golongan  miskin dan  bodoh.  Bahkan
              kalau  kita  mau  berpikir ideal, sekolah-sekolah  negeri  itu  memang
              untuk   publik  (publik  tidak  dibatasi  oleh  stratifikasi  sosial),
              s e d a n g k a n  mereka  yang  ingin  b e r k o m p e t i s i  secara  ketat
              dipersilakan  bersekolah  di  sekolah-sekolah  swasta   yang  bagus.
              Bagi  penulis,  jauh  lebih  baik  bila  sekolah-sekolah  swasta  kecil
              tidak  bermutu    itu  ditutup,   dan  a n a k - a n a k  m i s k i n - b o d o h
              ditampung   di  sekolah-sekolah  negeri  semua,  sedangkan   swasta
              yang  boleh  hidup  hanya  sekolah-sekolah   swasta  yang  bermutu
              saja.  Daripada  membiarkan    anak-anak   yang  miskin  dan  bodoh
              tetap  bersekolah  di  sekolah-sekolah  swasta  yang  tidak  bermutu,
              disiplin rendah,  dan  biayanya  relatif  tinggi.  Ini  sangat  tidak  adil.

                   Ironis  juga,  bila  negara  yang  diberi  mandat  untuk  mencer-
              daskan  warganya    justru  lebih  memfasilitasi  orang-orang  yang
              sudah  pintar  dan  kaya. uga  guru-guru   yang  dibayar  oleh  nega-
                                       J
              ra  justru  mendidik  anak-anak    yang  sudah   pintar,  sedangkan
                                                                           "
              guru-guru  swasta  kecil  yang  bayarannya  dengan  ucapan terima
              kasih"  malah  diberi  tugas  untuk  memintarkan  orang-orang yang
              miskin  dan  bodoh.

                   Ajfirmative  action  itu  tidak  hanya  untuk  tingkat  SMP-SMTA
              saja,  tapi  juga  pendidikan  tinggi  negeri.  Sebab,  tanpa  kebijakan
              ajfirmative  action,  sulit  dibayangkan  anak-anak  yang  miskin  dan
              bodoh   itu  akan  mengenyam    pendidikan    tinggi,  karena  sistem
              yang  ada  tidak  memberikan    jalan  sedikit  pun  kepada  mereka.
              Padahal  kalau  mereka   difasilitasi,  sangat  mungkin  kepandaian
              mereka  akan  meningkat    tajam.  Sebab,  kebodohan   mereka  lebih
              disebabkan   ketiadaan  fasilitas  yang  mendukungnya.
   338   339   340   341   342   343   344   345   346   347   348