Page 340 - Pendidikan Rusak-Rusakan (Darmaningtyas)
P. 340
pintar dan kaya dalam satu kelompok, anak yang bodoh dan
miskin dalam satu kelompok tersendiri. Ini jelas tidak sehat,
j
baik bagi perkembangan iwa anak maupun untuk kepentingan
c
solidaritas sosial. Sebab, rasa emburu dari golongan miskin dan
bodoh terhadap yang kaya dan atau pintar itu tidak dieliminasi,
tapi justru dipupuk dan dikembangkan secara sistematik.
Sistem pendidikan seperti itu cenderung akan menum-
buhkan kekecewaan mendalam pada golongan miskin dan
bodoh. Ekspresi kekecewaan bagi golongan miskin dan bodoh
terhadap ketidakadilan sosial yang ada di masyarakat itu,
mereka wujudkan dalam bentuk tawuran antarpelajar. Bila di-
telisik lebih jauh, dapat diketahui bahwa pelajar yang terlibat
dalam tawuran sesama pelajar itu mayoritas berasal dari sekolah-
sekolah swasta kecil atau di pinggiran kota, yang asal usul murid-
nya dari golongan miskin dan bodoh. Menurut penuturan bebera-
t
pa guru dari murid yang terlibat awuran/ pada saat masuk ke
sekolah (umumnya sekolah kejuruan), NEM si anak itu amat
rendah, sehingga mereka memang tidak dapat diterima di seko-
lah negeri. Juga tidak bisa diterima di SMA swasta bermutu.
Satu-satunya sekolah yang dapat menampung mereka adalah
sekolah kejuruan swasta.
Dilihat dari latar belakangnya, pelajar yang sering terlibat
tawuran umumnya tinggal di perkampungan padat (sebagian
di rumah petak dari papan) yang sumpek, berisik, semrawut.
Di sekolah, mereka berinteraksi secara intens dengan anak-anak
lain yang sama-sama mengalami kekecewaan dalam segala hal.
Sekolah yang semula diharapkan dapat menjadi ruang publik
bagi mereka untuk mengekspresikan kemampuannya, ternyata
cenderung represif akibat dari keterbatasan prasarana dan sarana
yang bersangkutan. Di jalanan, mereka harus berjuang susah
* Penulis sejak 2001, atas ajakan KAK (Komite Anti Kekerasan) di Jakarta, sering
terlibat dialog dengan para pelajar pelaku tawuran maupun para gurunya.
Pada saat kampanye Pemilu 2004, KAK beserta murid SMTA yang terlibat
tawuran itu beberapa kali mengadakan dialog dengan Partai Politik peserta
Pemilu, dan penulis sebagai pembahasnya.

