Page 336 - Pendidikan Rusak-Rusakan (Darmaningtyas)
P. 336

guru  sehingga   mereka   senang  mengatrol   NEM    murid,  terlebih
               dibayar.   Dengan    kembali   m e n g g u n a k a n  model  tes,  posisi
               kelompok    ini  makin  aman  karena  sistem  tes  itu  memungkinkan
               terjadinya   proses   tawar   m e n a w a r  soal  k e m a m p u a n  mem-
               bayarnya,  sehingga   ketidakmampuan     mengerjakan    soal-soal  tes
               dapat  ditutup  dengan   kemampuan     membayarnya.


               1.  Sekolah    Pinggiran

                    Peluang   yang  paling  sempit,  atau  bahkan  dapat  dikatakan
               tertutup,  adalah  bagi  anak-anak  miskin  sekaligus  bodoh.  Satu-
               satunya  peluang   yang  terbuka  bagi  mereka   adalah  di  sekolah-
               sekolah  swasta  tidak  bermutu  yang secara  fisik  lokasinya  berada
               di  pinggiran  kota  atau  daerah  terpencil.  Kalau  di  tengah  per-
               kotaan,  sekolah  itu  berada  di  tengah  daerah  pemukiman    yang
               padat,  kumuh,    dan  semrawut   sehingga   tidak  kondusif  untuk
               proses belajar  mengajar.  Hal  itu  disebabkan  mereka tidak  memi-
               liki  modal  apa  pun  yang  diperlukan  sebagai  syarat  untuk  masuk
               ke sekolah,  baik  ketika  memakai  sistem  DANEM    maupun   model
               tes.  Bahkan  ketika  sistem  Ujian  Akhir  Nasional  itu  diterapkan,
               kelompok    inilah  yang  paling  banyak  menjadi   korban  ketidak-
               lulusannya.

                    Ketika   sistem  D A N E M  masih   digunakan,   karena   NEM
               mereka   amat  rendah,  mereka  tidak  bisa  masuk  ke sekolah  negeri
               yang  hanya   menggunakan      sistem  seleksi  tunggal.  Sedangkan
               kalau  mau  masuk   ke sekolah-sekolah swasta   favorit,  selain  NEM
               mereka jelek,  mereka juga  tidak memiliki  kemampuan     membayar
               yang  tinggi.  Jadi  satu-satunya  pilihan yang  tersedia  bagi  mereka
               adalah  sekolah-sekolah  pinggiran  yang  model   rekrutmen  murid-
               nya  memang    hanya  mengandalkan     sisa-sisa  (Jawa:  koretan)  calon
               murid,  baik  yang  tidak  diterima  di  sekolah  negeri,  swasta  favo-
               rit,  maupun  swasta  menengah.

                    Nasib  buruk   yang  sama  dirasakan   pula  ketika  mekanisme
               rekrutmen   murid  baru  di  sekolah-sekolah  negeri  maupun  swasta
               menggunakan     model   tes  dan  wawancara.  Kelompok   ini,  karena
   331   332   333   334   335   336   337   338   339   340   341