Page 332 - Pendidikan Rusak-Rusakan (Darmaningtyas)
P. 332

dan  advokasi  seperti  yang  ditawarkan  di  atas, juga  lewat  otokri-
              tik  ke  dalam  institusi-institusi  agama atau  pendidikan yang  telah
              ada.  Sejauh  manakah    komitmen     para  pengelola   pendidikan
              swasta  untuk  memberikan    ruang  yang  luas  bagi  anak-anak  mis-
              kin  supaya  dapat memperoleh   pelayanan   pendidikan yang   layak?

                   Betulkah  orang  miskin  memerlukan    model   pendidikan   for-
              mal  seperti  yang sering kita  bayangkan? Jika  memerlukan,  model
              dan  materi  pendidikan  macam   apa  yang sesuai  dengan  tuntutan
              riil  mereka?  Jangan-jangan,   konsep   itu  dikembangkan    hanya
              sebagai  "penebusan    dosa"   sekolah-sekolah   swasta   di  bawah
              gereja,  yang  selama  ini  lebih  banyak  memberikan    ruang  bagi
              mereka yang   mampu    membayar mahal,    bukan sebagai   panggilan
              tulus  untuk  memberikan    pelayanan   kepada  kaum   miskin  yang
                         J
              hina  dina. angan-jangan, yang diperlukan ekarang adalah       men-
                                                           s
              didik  diri  kita  sendiri  agar  kita  memahami  dan  empati  pada
              kaum   miskin,  sehingga  dari  sana  akan  tumbuh  panggilan  yang
              tulus  untuk  memberikan      pelayanan   pendidikan    bagi  kaum
              miskin.
                   Kita juga dapat  melakukan   kaji  ulang, sejauh  mana relevansi
              model   pendidikan    yang   d i k e m b a n g k a n  oleh  D E D  di  S D K
              Mangunan    dengan   kebutuhan    masyarakat,  melalui   mekanisme
              yang  amat  sederhana.   Yaitu,  semakin  besar  animo  masyarakat
              yang  merelakan  anaknya   dididik di  SDK  Mangunan,   maka   dapat
              diklaim  semakin  dekat  model  pendidikan   itu  dengan  kebutuhan
              masyarakat.   Tapi  bila  animonya   semakin   sedikit,  maka  men-
              desak kebutuhan   untuk  mengkaji  kembali  relevansi  model-model
              pendidikan   yang  dikembangkan     oleh  DED   di  SDK  Mangunan
              itu  dengan  kebutuhan   masyarakat   sekitar.
                   Dan  yang  tidak  kalah  penting untuk dilakukan  adalah  meng-
              kaji  kembali  pemikiran   pendidikan   YB   Mangunwijaya     untuk
              menghindarkan     kita  dari  jebakan  penyederhanaan     pemikiran
              yang  begitu  kompleks  dan  abstrak.  YBM  itu  sendiri  adalah  sebu-
              ah  konsep.  Artinya,  menyebut   nama   Romo   YB  Mangunwijaya,
              telah  mengarahkan   pemikiran   kita  ke  dalam  sosok  orang  yang





              334
   327   328   329   330   331   332   333   334   335   336   337