Page 327 - Pendidikan Rusak-Rusakan (Darmaningtyas)
P. 327
kemerdekaan pada setiap murid, itulah salah satu obsesi yang
ingin diwujudkan oleh Y B M melalui praktik pendidikannya di
s
DED maupun SDK Mangunan ini. Asumsinya, bila orang udah
hidup merdeka, barulah dapat diajak ke arah transformasi.
Kemerdekaan, kemandirian, kreativitas, keterampilan, dan
keberanian menjadi penting dalam konsepsi dan praktik
pendidikan YBM. Karena asumsinya, dengan memiliki semua
itu, anak-anak tidak tergantung pada orang lain (yang lebih
kaya). Sebaliknya, mereka mampu berkompetisi dengan anak-
anak orang kaya dan mudah diajak melangkah ke tahapan
berikutnya.
Mengapa pilihannya pada Sekolah Dasar (SD)? Setidaknya,
ada dua hal yang mendasarinya. Pertama, YBM yakin bahwa SD
merupakan landasan pertama dan utama bagi pendidikan di
atasnya. Tapi di sisi lain, perhatian terhadap SD oleh pemerintah
maupun swasta sangat sedikit. Hal itu tercermin dari alokasi
bantuan dana yang sangat kecil untuk SD setelah Perguruan
Tinggi, SMTA, dan SMTP.
Kedua, negara belum mampu membiayai pendidikan seluruh
warganya secara gratis. Akibatnya, banyak murid SD yang drop
out dengan alasan ekonomi. Tapi para murid SD yang drop out
umumnya tidak memiliki bekal keterampilan apa-apa, sehingga
ketika drop out, pilihan mereka adalah bekerja pada bidang-
bidang seperti menjadi pembantu rumah tangga, buruh kasar,
buruh bangunan, dan pekerjaan sektor informal lain yang secara
ekonomis tidak banyak mengubah tingkat kemiskinan mereka
menjadi kaya.
Tapi praktik pendidikan yang dijalankan YBM itu sekaligus
merupakan otokritik erhadap praktik pendidikan yang dijalan-
t
kan oleh sekolah-sekolah Katolik, yang dianggap telah meng-
abaikan nasib orang-orang miskin dan tidak menumbuhkan
kemerdekaan bagi anak-anak umumnya. Sebaliknya, sekolah-
sekolah Katolik justru menjadi bagian dari aparatus negara (dan
gereja) yang mengkooptasi sikap-sikap kritis dan jiwa merdeka
329

