Page 324 - Pendidikan Rusak-Rusakan (Darmaningtyas)
P. 324

Kaitan  antara  kemiskinan  dan  pendidikan   ini  telah  menjadi
              isu  meluas  di  banyak  negara.  Di  negara-negara    maju  seperti
              Amerika   Serikat,  permasalahan  muncul   sebagai  akibat  besarnya
              subsidi  yang  diperuntukkan    bagi  orang-orang  miskin,  sedang-
              kan di  negara-negara  miskin, seperti Indonesia, permasalahannya
              terletak  pada  ketidakadilan dalam  memperoleh   akses  pendidikan
              antara  orang  kaya  dengan   orang  miskin.  Kenyataannya,    biaya
              menyekolahkan    anak  kaya  maupun    miskin  dalam  sistem  pendi-
              dikan formal  itu  sama,  bahkan enderung lebih   mahal  bagi  kaum
                                               c
              miskin.  Hal  itu  disebabkan,  sekolah-sekolah   negeri  yang  90%
              pembiayaannya     ditanggung   oleh  negara  justru  diduduki   oleh
              mayoritas  anak-anak   orang  kaya  (kelas  menengah).  Sebaliknya,
              anak-anak  buruh   pabrik,  buruh  kasar,  buruh  bangunan,  nelayan,
              pemulung,   buruh  tani,  petani,  dan  lain-lain  justru  bersekolah  di
              sekolah-sekolah  swasta  kecil,  yang  90%  pembiayaannya    ditang-
              gung  sendiri.  Dengan  demikian,  orang-orang   kaya  di  Indonesia
              justru  membayar   biaya  pendidikan  lebih  kecil  dibanding orang-
              orang  miskin  yang  harus  membayar biaya   pendidikan jauh   lebih
              banyak.

                   Munculnya    ketidakadilan  itu  bersumber  pada  sistem  seleksi
              siswa/mahasiswa     baru   yang  didasarkan   pada   besaran  angka
              NEM   (Nilai  Ebtanas Murni)  yang memperlihatkan capaian     angka
              tertinggi.  Sementara,  prasyarat  untuk  mencapai  angka  tertinggi
                                                          l
              itu  adalah  fasilitas-fasilitas  belajar  yang engkap  dan  makanan
              yang  bergizi  sehingga  anak  tersebut  menjadi  cerdas.  Kedua  pra-
              syarat  itu  hanya  dimiliki oleh  orang-orang yang secara  ekonomis
              mampu.    Orang-orang    miskin,  karena  sejak  awal  gizinya  tidak
              terpenuhi  dan  fasilitas  belajarnya  tidak  mendukung,  kemudian
              memperoleh    nilai  rendah.  Akibatnya,  mereka  tidak  lulus  seleksi
              masuk   ke  sekolah-sekolah  negeri  yang  biayanya  sebagian  besar
              ditanggung   oleh  negara.  Sampai   sekarang,  belum   pernah   ada
              kebijakan   seleksi  m a s u k  ke  s e k o l a h - s e k o l a h  formal  yang
              didasarkan  pada  kemampuan     sosial  ekonomi  calon  murid/maha-
              siswa.  Akibatnya,  sampai   sekarang   kita  belum  melihat  tanda-
              tanda  berakhirnya    ketidakadilan   tersebut.  Yang   kaya  masih
              tetap  membayar  kecil, yang miskin  tetap  membayar lebih banyak.



              326
   319   320   321   322   323   324   325   326   327   328   329