Page 319 - Pendidikan Rusak-Rusakan (Darmaningtyas)
P. 319
pendidikan menanamkian jiwa pluralistik, kelak akan lahir
masyarakat yang masing-masing warganya mampu hidup dan
berperilaku layak dalam masyarakat pluralistik. 2
Karena kebijakan dan praktik pendidikan selama ini sangat
diskriminatif, rasis, sektarian, mengajarkan korupsi, manipulasi,
kekerasan, caci maki, dan sejenisnya, maka sangat wajar bila
produknya mendapat rangking sangat rendah di dunia, bahkan
cenderung merosot dari urutan ke-I03 pada 1998 menjadi urutan
ke-109 pada 2000. Justru, akan mengherankan bila hasilnya
bagus. Orang Jawa bilang, "Ngunduh wong budi pakerti" (meme-
tik hasil perbuatannya sendiri).
2. Harapan akan Perubahan
Adakah harapan perubahan bagi pendidikan H A M di
sekolah-sekolah formal? Secara prinsipil, jelas ada. Perubahan
situasi politik selama tiga tahun terakhir juga membuka peluang
untuk itu. Demikian pula, kesadaran dari sebagian penentu kebi-
jakan di Departemen Pendidikan tentang pentingnya pendidikan
H A M merupakan peluang yang baik untuk melakukan perubah-
an secara internal. Sekarang permasalahannya adalah: Mau atau
tidak melakukan perubahan? Para penentu kebijakan yang diun-
tungkan oleh kebijakan-kebijakan yang sangat diskriminatif jelas
tidak mau. Apalagi mereka yang menciptakan kebijakan itu. Oleh
sebab itu, perubahan memang tidak boleh kita nantikan, tapi
kita ciptakan bersama. Sama halnya dulu, para aktivis pro-
demokrasi menuntut Presiden Soeharto turun dari jabatannya.
Jelas, Soeharto dan kroninya tidak mau turun. Supaya bisa turun,
ya harus diturunkan ramai-ramai. Sama halnya dalam perbaikan
11AM, jangan berharap ada perubahan dari penguasa.
Jelaslah di sini titik pijak kita. Kita harus menciptakan per-
ubahan tersebut secara bersama-sama. Jangan sesekali menanti
2 Zamroni, Pendidikan untuk Demokrasi: Tantangan Menuju Civil Society, (Yogyakarta:
Bigraf, t.t.), hlm. 81-82.
320

