Page 316 - Pendidikan Rusak-Rusakan (Darmaningtyas)
P. 316

dan  Komunisme    di  institusi  pendidikan  nasional.  Pelarangan  itu
               sebetulnya   mencerminkan     perilaku  yang  bertentangan   dengan
               jiwa  pendidikan   itu  sendiri.  Secara  sadar,  institusi  pendidikan
               turut  melakukan   pelanggaran   terhadap   Deklarasi  HAM.     Pela-
                                                    S
               rangan  yang dilakukan   oleh  rezim oeharto   tidak pernah  ditinjau
               kebenarannya.    Di  sinilah  letak  persoalannya.  Bukankah    men-
               dewakan    ideologi  anti-Marxisme    dan  anti-Komunisme     berarti
               menyembah     berhala?  Ideologi,  oleh  administrasi  pemerintahan
               Indonesia,   diagungkan    melebihi  kebesaran   nama   Sang   Maha
               Pencipta.  Pandirnya,   ideologi  "anti"  itu  dicomot  dari  zaman
               Perang  Dingin  dekade 1960-an.  Perang  Dingin sudah   usai.  Komu-
               nisme  sudah  bangkrut.  Namun,    ideologi  "anti"  itu  tetap  dicang-
               kokkan   pada  berbagai  peristiwa yang  telah  dimanipulasi  sebagai
               kedok   kekuasaan   yang  zalim  dan  korup.

                                                         (
                    Majelis  Permusyawaratan     Rakyat MPR)    hasil  pemilu  1999,
               yang  konon  merupakan    pemilu  paling  demokratis  dalam sejarah
               politik  Indonesia,  tetap  bergeming  tidak  mau  menyentuh  materi
               Tap   MPRS   No.  XXV/MPRS/1966        tentang  Pelarangan   Paham
               Marxisme   dan  Komunisme.     Tap  itulah  yang  selama  ini  menjadi
               dasar  hukum   bagi  larangan  mengkaji  Marxisme dan   Komunisme.
                    Padahal,   Ketetapan   MPRS    sebagai  produk    hukum    lebih
               rendah   kedudukannya     daripada   UUD    1945.  Bukankah   dalam
               hukum    ketatanegaraan   ada  asas  lex  superiore  derogat  inferiore  (pro-
               duk  hukum    yang  lebih  rendah  kedudukannya     tidak  boleh  ber-
               tentangan   dengan    konstitusi  negara   yang   kedudukan    lebih
               tinggi)?  TAP  MPRS   No.  XXV/MPRS/1966       mestinya  batal  demi
               hukum,   mengingat   bertentangan   dengan   UUD   1945.  Perancang
               Ketetapan   itu  pun  bukan  MPR   hasil  pemilu,  melainkan   MPRS
               (Sementara)   yang  anggota-anggotanya     diangkat   oleh  presiden
               (darurat  pula  saat  itu).  Padahal,  kebebasan  agama  dan  berorga-
               nisasi saja dijamin  konstitusi.  Embargo atas  informasi yang sudah


                 sendiri,  tapi  di  benua  Kangguru  ia  justru  menjadi  "duta  kebudayaan"  yang
                 menakjubkan.  Ia  juga  mendapat  penghargaan  dari  dunia  internasional,  tapi  di
                 negerinya  sendiri  tetap  dinafikan  eksistensinya.
   311   312   313   314   315   316   317   318   319   320   321