Page 314 - Pendidikan Rusak-Rusakan (Darmaningtyas)
P. 314
menjalankan peran tersebut karena telah direduksi menjadi
instrumen politik untuk memecah belah masyarakat.
Politisasi agama di sekolah terjadi secara nyata, sejak Men-
teri Pendidikan dijabat oleh Nugroho Notosusanto (1983-1985),
yang mengharuskan setiap murid baru menandatangani surat
pernyataan yang menyebutkan tentang pelajaran jenis agama
yang akan diikuti. Kebijakan itu pada akhirnya justru mem-
peruncing perbedaan-perbedaan yang ada di masyarakat. Dan
kebijakan itu kemudian diperparah oleh guru-guru agama yang
dalam memberikan materi terlalu dogmatis, tidak memper-
timbangkan aspek-aspek psikologis, sosiologis, maupun antro-
pologisnya. Sejak itu, ada segregasi murid berdasarkan agama
yang diikuti dengan munculnya UU No.2 Tahun 1989 tentang
Sistem Pendidikan Nasional, khususnya penjelasan Pasal 28 yang
mengatur agar murid mendapat pelajaran agama sesuai dengan
agama yang dianutnya (tidak peduli mereka sekolah di mana).
Desakan untuk melaksanakan penjelasan Pasal 28 semakin
nyata dengan munculnya Surat Keputusan Bersama (SKB) antara
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Juvvono Sudarsono),
Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Haryono Suyono),
serta Menteri Agama (A. Malik Fajar) pada masa rezim B.J.Habibie,
yang mewajibkan sekolah-sekolah untuk segera melaksanakan
pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianut oleh para
siswa. Meskipun SKB tersebut dikeluarkan oleh sebuah rezim
transisi (yang secara moral yuridis tidak boleh mengambil kepu-
tusan strategis), kenyataannya SKB itu sekarang menjadi senjata
ampuh untuk mendesakkan pelaksanaan penjelasan Pasal 28 UU
s
No.2/1989. SKB tersebut di DIY elama dua tahun terakhir telah
menciptakan ketegangan horizontal maupun vertikal. Dan men-
jelang pelaksanaan Tahun Ajaran 2001/2002, di beberapa sudut
jalan di Yogyakarta terpampang berbagai spanduk yang dapat
memicu konflik horizontal, seperti: Haram hukumnya sekolah-
sekolah nasrani bagi muslim; Pilih sekolah sesuai dengan agama anak
Anda; Jangan korbankan aqidah hanya karena salah pilih sekolah, dan
lain-lain.

