Page 313 - Pendidikan Rusak-Rusakan (Darmaningtyas)
P. 313

dikan sendiri.  Itu  disebabkan  pendidikan  telah  direduksi  menjadi
              instrumen   bagi  kepentingan   politik  penguasa,  sehingga  secara
              sengaja  tidak  dirancang  untuk  menumbuhkan    daya  kritis,  mena-
              namkan    nilai-nilai  kejujuran,  keadilan,  solidaritas,  toleransi,
              disiplin,  tanggung awab,     dan  konsistensi,  melainkan   rangka
                                   j
              mempertahankan     ideologi  penguasa.  Itu  terlihat jelas  pada  ideo-
              logi  penyeragaman,   yang  merupakan    bagian  dari  ideologi  mili-
              teristik  dan  politisasi  agama  di  sekolah.

                   Kecenderungan     ideologi  militeristik  itu  diimplementasikan
              secara fisik  maupun  nonfisik. Secara  fisik,  melalui  penyeragaman
              pakaian  pelajar  di  seluruh  wilayah  Indonesia  dan  upacara  ben-
              dera  setiap  hari  Senin,  sedangkan  nonfisik  dilakukan   dengan
              indoktrinasi  melalui  beberapa  mata  pelajaran,  terutama  sejarah
              dan  PMP  (sekarang  berganti  baju  PPKN).  Hampir emua     sejarah
                                                                    s
              yang  diperkenalkan   kepada   para  murid  adalah  sejarah  perang,
              sehingga  pahlawan-pahlawan      yang  diciptakan   maupun    monu-
              men-monumen      yang  diperkenalkan adalah   monumen-monumen
              berdarah.
                   Dampak    psikologis  dari  pilihan-pilihan  substansi  pelajaran
              semacam    itu  adalah  memperkenalkan     anak-anak   yang  sedang
              tumbuh   menjadi   remaja  dengan   dunia   kekerasan;  dunia  yang
              memuja   kekuatan   okol,  bukan  otak.  Tak  heran  bila  produk  pen-
              didikan  masa   Orde   Baru  melahirkan    orang-orang   yang   suka
              tawuran,  main  gontok-gontokan,   bakar-bakaran,   timpuk-timpuk-
              an,  saling  menganiaya,   saling  membunuh,    suka   memaksakan
              kehendak,   mengembangkan      etika  "pokoke".  Bahkan,  pejabat  pe-
              merintah  maupun    DPR/D    pun  baru  mau   mendengarkan     suara
              warganya   kalau  sudah   didemo.   Kalau  diajak  dialog  baik-baik,
              tidak  pernah ditanggapi.  Jadi,  hasil  pendidikan  Orde  Baru  sama
              sekali  tidak  melahirkan  orang  yang  mampu    mencintai  sesama,
              suka  kedamaian,   toleran  terhadap  segala  perbedaan,  serta  men-
              junjung  tinggi  nilai-nilai  kemanusiaan.

                                             s
                   Pendidikan   agama  yang eharusnya     berperan  menanamkan
                                                                      j
              nilai-nilai  kebenaran,  kejujuran,  disiplin,  tanggung awab,  cinta
              kasih,  toleransi,  dan  nilai-nilai  dasar  lainnya  pun  tidak  mampu




              314
   308   309   310   311   312   313   314   315   316   317   318