Page 315 - Pendidikan Rusak-Rusakan (Darmaningtyas)
P. 315
Baik kebijakan Nugroho Notosusanto, Penjelasan Pasal 28
UU No.2/1989, maupun SKB tiga Menteri Tahun 1999 sesung-
guhnya merupakan realitas politik yang berlawanan dengan
prinsip-prinsip hak asasi manusia. Pasal 18 Deklarasi HAM secara
tegas menyatakan: "Setiap orang berhak atas kebebasan berpikir,
berkeyakinan, dan beragama. Hak ini meliputi kebebasan untuk
mengubah agama atau keyakinannya, serta kebebasan, secara pribadi
atau bersama-sama dengan orang lain dan secara terbuka atau pribadi,
untuk menjalankan agama atau keyakinannya dalam pengajaran, praktik,
ibadah, dan ketaatan."
Menurut hemat penulis, sungguh ironis bila pendidikan,
yang eharusnya menjalankan peran penyadaran kepada masya-
s
rakat sehingga masyarakat tidak bisa dikooptasi oleh kekuatan-
kekuatan politik mana pun, dan sebaliknya mampu mengambil
keputusan secara otonom demi tegaknya hak-hak asasi manusia
yang lain, justru melakukan politisasi agama yang berdampak
pada rusaknya sendi-sendi kehidupan bersama, kedamaian, cinta
kasih, dan toleransi. Sekaligus juga, membelenggu pelaksanaan
hak-hak asasi manusia lainnya, terutama kebebasan memilih atau
berpindah keyakinan maupun agama. Padahal, kehidupan ber-
agama merupakan proses religius yang tidak bisa berhenti pada
satu titik tertentu, melainkan akan selalu berproses terus mene-
rus untuk menemukan suatu keyakinan yang sesuai dengan hati
nuraninya. Salah satu proses yang dapat dijalani adalah dengan
mempelajari keyakinan-keyakinan lain. Tapi bila pintu belajar
itu pun ditutup, maka tidak ada kesempatan lagi bagi seseorang
untuk belajar lebih banyak. Penutupan pintu belajar itu sendiri
merupakan bentuk pelanggaran HAM.
Ironi yang lain juga bisa dilihat dari pelarangan karya-karya
sastra tertentu 1 yang dituduh menyebarluaskan paham Marxisme
1 Karya-karya sastra bermutu tinggi yang sampai hari ini masih ditabukan untuk
dipelajari di bangku sekolah menengah adalah novel-novel karangan Pramoedya
Ananta Toer (Pram), seperti Bumi Manusia, Sang Pemula, jejak Langkah, Gadis
Pantai, Rumah Kaca, dan Nyanyi Sunyi Seorang Bisu. Padahal novel-novel Pram di
sekolah-sekolah menengah di Australia, misalnya, yang membuka jurusan kebu-
dayaan Indonesia, menjadi bacaan favorit para siswa. Pram jadi paria di negeri

