Page 317 - Pendidikan Rusak-Rusakan (Darmaningtyas)
P. 317

tidak  sensitif  lagi Marxisme  dan  Komunisme)   berarti  sikap  pan-
                                 (
              dir penguasa di  hadapan rakyatnya yang    makin   cerdas dan  terpe-
              lajar.

                   Mengapa    ideologi  yang  terkait  dengan  kemerdekaan    ber-
              pikir,  berpendapat,  dan  mengakses    informasi  tetap  digembok
              rapat  dengan  konstitusi?  Itulah  ironi  HAM  di  tengah  anomali
              reformasi.  Aneh,  lantaran  semenjak  Soeharto   terguling,  bangsa
              Indonesia   getol  mendekonstruksi     wacana-wacana     anti-HAM
              yang  pernah  direproduksi  Orde  Baru  untuk  mengawetkan     keku-
              asaan.  Wacana   yang  sejak  1  Oktober  1965  hingga  kini  menjadi
              preseden   kejahatan  negara   atas  HAM.   Dalam   konstruk   ideo-
              logi  politik demikianlah,  kita jadi  mahfum,  mengapa karya-karya
              sastra  Pram  tetap  dilarang  dipelajari  di  bangku  sekolah.  Meski-
              pun  karya-karya   Pram  tidak  mencerminkan    ajaran  atau  paham
              Marxisme   dan  Komunisme,    sebaliknya   berbicara  tentang  perju-
              angan  bangsa,  terutama   pada  masa-masa    revolusi,  tapi  karena
              Pram  adalah  simbol  perlawanan  terhadap rezim   Orde Baru,  maka
              selama  itu  pula  karya-karya   Pram   tidak  dimasukkan    sebagai
              bahan  pelajaran  di  sekolah-sekolah   formal.  Dan  harus  diakui,
              birokrasi  pemerintahan   sekarang  ini  tetap  masih  dipegang  oleh
              orang-orang   yang  dibesarkan  Orde  Baru,  sehingga  cara  berpikir
              mereka   pun  khas  Orde   Baru.  Mereka   bukan   tipe  orang  yang
              mengembangkan       akalnya,  tapi  lebih  mengandalkan     ototnya,
              sehingga sah-sah  saja  melarang meskipun   tidak  pernah  membaca
              isinya,  karena  mereka  memang     tidak  pernah  diajarkan  untuk
              membaca,   tapi  untuk  berlari.


                   Padahal,  kalau  kita  kembali  mengacu  pada  bunyi  Deklarasi
              HAM,    Pasal  27  ayat  2  secara  tegas  menyatakan:  "Setiap  orang
              berhak  atas  perlindungan  terhadap  kepentingan-kepentingan  material
              dan  moral  dari  karya  ilmiah,  kesusasteraan  atau  kesenian  yang  ia
              ciptakan."
                   Berhadapan     dengan   realitas  politik  semacam    itu,  pen-
              didikan  seakan  tidak  berkutik.  Ia  tetap  berada  di  bawah  hege-
              moni  politikus, yang  mencoba  ingin  mempertahankan atau     mere-
   312   313   314   315   316   317   318   319   320   321   322