Page 321 - Pendidikan Rusak-Rusakan (Darmaningtyas)
P. 321
dan sektarian itu. Sebab, kebijakan-kebijakan semacam itu akan
menginternalisasi ke dalam sanubari murid, sehingga ketika
mereka dewasa pun akan mengikuti yang dialami sekarang ini,
karena dianggap sebagai kebenaran yang sah. Para pejabat
Departemen Pendidikan juga harus dipaksa agar menyediakan
bahan-bahan bacaan yang bermutu, dengan mengisi perpus-
takaan-perpustakaan sekolah dengan karya-karya Pramoedya
Ananta Toer dan lainnya.
Menurut hemat saya, kalau kebijakan-kebijakan dan sub-
stansi pendidikan di Indonesia tidak diskriminatif, tidak rasis,
tidak sektarian, tidak berbau mesiu dan darah melulu, sangat
plural, dan toleran, maka tanpa harus ada kurikulum khusus
H A M pun, upaya perbaikan terhadap pemahaman dan pelak-
sanaan H A M di Indonesia itu dengan sendirinya akan tercapai
dengan baik. Ada materi, guru, dan jam pelajaran khusus menge-
nai HAM, tapi kalau kebijakan dan substansi pendidikan pada
umumnya masih tetap diskriminatif, rasis, sektarian, mengajar-
kan kekerasan, cenderung penyeragaman, dan sejenisnya, maka
pemahaman murid terhadap HAM tetap kacau balau dan pelak-
sanaan HAM di Indonesia pun tidak akan pernah baik, karena
pendidikan itu terus akan melahirkan sociid production.
Jadi, menurut hemat saya, pilihannya bukan pada model
pendidikannya, tapi pada substansinya. Sebab, kalau pilihannya
pada model pendidikan HAM-nya (menjadi kurikulum tersen-
diri atau tidak), selain akan akan menimbulkan beban baru pada
murid dan butuh biaya tersendiri — seperti kata S. Belen (Kompas,
18/10/2001), tidak ada uang untuk menatar para guru—juga
hasilnya belum tentu lebih baik. Tapi dengan perbaikan kebijakan
dan substansi pendidikan, selain lebih murah biayanya, tingkat
pencapaiannya kemungkinan bisa jauh lebih tinggi, karena ter-
integrasi dengan bidang-bidang lain dan perilaku yang konkret.
Peran yang dapat dimainkan oleh para aktivis HAM adalah
penyediaan informasi alternatif yang berkaitan dengan HAM,
serta melakukan pendidikan alternatif bagi para guru agar
mereka tercerahkan ketika menghadapi murid-murid. Pilihan

